”Jalan Sunyi Menjadi Manusia”

 ”Jalan Sunyi Menjadi Manusia”
Surat orang tua kepada anaknya
 

Nak,
dunia tempatmu berjalan nanti
tak selalu ramah seperti peluk ibumu,
tak selalu jujur seperti tatapan ayahmu.
Ia akan memintamu cepat,
memaksamu kuat,
dan sering kali tak peduli apakah hatimu sedang lelah.
 
Tapi ayah-ibu mohon,
jangan kau buang kelembutan hatimu demi bertahan.
Tetaplah rendah hati,
karena orang yang paling dalam jiwanya
tak pernah merasa perlu berdiri di atas yang lain.
 
Bukan besar suaramu yang akan dikenang,
tapi dalamnya pemahamanmu pada sesama.
Belajarlah mendengar bukan untuk menjawab,
tapi untuk mengerti.
Lihatlah wajah orang lain,
karena sering kali yang tersenyum adalah yang paling butuh dipeluk.
 
Nak,
kami ingin kau terus maju—
bukan untuk menang atas siapa pun,
tapi untuk menjadi dirimu yang utuh.
Tak perlu tergesa,
asal langkahmu jujur dan tidak menyakiti.
 
Tolonglah mereka yang kau bisa bantu,
bukan karena engkau lebih tinggi,
tapi karena suatu hari nanti,
kau pun akan butuh tangan yang tulus.
 
Jika nanti hidup terasa sempit,
berdiamlah sebentar.
Tenangkan hatimu,
karena suara kebenaran sering berbisik,
bukan berteriak.
 
Peganglah spiritualitas bukan sebagai lambang luar,
tapi sebagai rumah batinmu.
Berdoalah bukan karena takut,
tapi karena rindumu pada yang menciptakanmu.
 
Dan ingatlah satu hal, anakku:
Dalam dunia yang kian keras,
yang paling kuat bukan yang paling keras,
tapi yang tetap lembut tanpa hancur,
yang tetap memberi tanpa pamrih,
yang tetap menjadi manusia,
meski dunia mengajarkan sebaliknya.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts