”Ke Mana Jiwa Pergi?”
”Ke Mana Jiwa Pergi?”
Orang-orang bergegas,
berlalu lalang dengan wajah lelah,
sibuk menanggung urusannya sendiri,
menyembunyikan luka di balik senyum terpaksa.
Mungkin mereka punya seribu masalah pribadi,
namun di hadapan kita terbentang masalah yang sama:
masalah bangsa, masalah Indonesia,
masalah kemanusiaan yang kian retak.
Namun siapa peduli?
Yang terlihat peduli, sesungguhnya mencari panggung,
memburu empati, menulis warisan semu,
sementara luka negeri ini dibiarkan parah.
Lalu jiwa bertanya:
ke mana aku akan pergi?
ke mana hati akan melayang?
ke mana nurani hendak berlabuh?
Apakah kita akan karam
di lautan ego dan kepalsuan,
atau bangkit menjadi cahaya
yang menembus gelap zaman?
Wahai jiwa, jangan terlelap!
Bangunlah dari tidur panjangmu.
Ada panggilan lebih tinggi,
ada seruan Ilahi yang tak bisa diabaikan.
Ketika manusia menutup mata,
Allah tetap melihat.
Ketika manusia berpaling,
Ar-Rahman tetap memeluk semesta.
Maka biarlah hati ini menggelora,
menjadi obor kecil di tengah padamnya api,
menjadi suara bening di antara bisingnya dusta.
Karena jalan kita bukan sekadar
menyelesaikan urusan pribadi,
tapi merenda harapan bersama,
menjahit kembali kain bangsa
yang hampir koyak oleh kelalaian.
Jika dunia sibuk dengan dirinya,
biarlah kita sibuk dengan doa,
sibuk dengan karya,
sibuk dengan keberanian menyalakan kebenaran.
Ke mana jiwa pergi?
Ke arah cahaya yang tak pernah padam.
Ke mana hati melayang?
Ke pangkuan kasih sayang Allah yang abadi.
Dan dari sana,
akan lahir keberanian baru:
membela yang lemah,
menggenggam tangan yang terjatuh,
menjadi saksi bahwa manusia bukan mesin,
tetapi khalifah yang bertugas memakmurkan bumi.
ⒷⒽⓌ
berlalu lalang dengan wajah lelah,
sibuk menanggung urusannya sendiri,
menyembunyikan luka di balik senyum terpaksa.
Mungkin mereka punya seribu masalah pribadi,
namun di hadapan kita terbentang masalah yang sama:
masalah bangsa, masalah Indonesia,
masalah kemanusiaan yang kian retak.
Namun siapa peduli?
Yang terlihat peduli, sesungguhnya mencari panggung,
memburu empati, menulis warisan semu,
sementara luka negeri ini dibiarkan parah.
Lalu jiwa bertanya:
ke mana aku akan pergi?
ke mana hati akan melayang?
ke mana nurani hendak berlabuh?
Apakah kita akan karam
di lautan ego dan kepalsuan,
atau bangkit menjadi cahaya
yang menembus gelap zaman?
Wahai jiwa, jangan terlelap!
Bangunlah dari tidur panjangmu.
Ada panggilan lebih tinggi,
ada seruan Ilahi yang tak bisa diabaikan.
Ketika manusia menutup mata,
Allah tetap melihat.
Ketika manusia berpaling,
Ar-Rahman tetap memeluk semesta.
Maka biarlah hati ini menggelora,
menjadi obor kecil di tengah padamnya api,
menjadi suara bening di antara bisingnya dusta.
Karena jalan kita bukan sekadar
menyelesaikan urusan pribadi,
tapi merenda harapan bersama,
menjahit kembali kain bangsa
yang hampir koyak oleh kelalaian.
Jika dunia sibuk dengan dirinya,
biarlah kita sibuk dengan doa,
sibuk dengan karya,
sibuk dengan keberanian menyalakan kebenaran.
Ke mana jiwa pergi?
Ke arah cahaya yang tak pernah padam.
Ke mana hati melayang?
Ke pangkuan kasih sayang Allah yang abadi.
Dan dari sana,
akan lahir keberanian baru:
membela yang lemah,
menggenggam tangan yang terjatuh,
menjadi saksi bahwa manusia bukan mesin,
tetapi khalifah yang bertugas memakmurkan bumi.
Comments
Post a Comment