”Ketika Amanah Jadi Dagangan”
”Ketika Amanah Jadi Dagangan”
— Lilin kecil di Gelap Istana
Satu per satu pejabat diseret malam,
tertangkap tangan menggadai amanah.
Yang lain masih menari di atas panggung,
memamerkan gaji, mobil, dan tunjangan jabatan,
dari pajak rakyat yang kian lelah.
Gaji besar jadi topeng,
fasilitas mewah jadi beban,
sementara rasa malu sudah lama mati,
dan sungkan terkubur bersama nurani.
Lidah mereka pandai berkelit,
retorika dibentangkan seperti tirai,
menutupi kenyataan pahit:
tak ada yang sungguh memikirkan rakyat.
Jika ada program, itu hanya cermin
untuk menyanjung diri sendiri,
bukan untuk menegakkan keadilan,
bukan untuk menghapus lapar di dapur rakyat.
Namun, wahai jiwa,
jangan biarkan amarah menenggelamkan doa.
Jangan biarkan kecewa merampas tenang.
Sebab setiap dusta ada catatannya,
setiap tamak ada balasannya,
dan setiap kursi kuasa ada bara api di bawahnya.
Tetaplah engkau jernih di tengah lumpur,
seperti sungai yang tak berhenti mengalir.
Tetaplah engkau tegar di tengah badai,
seperti pohon yang berakar dalam iman.
Bangunlah dirimu jadi cahaya kecil,
meski istana gelap menolak terang.
Sebab yang abadi bukanlah warisan nama,
bukan pula gelar yang digenggam.
Yang abadi hanyalah jiwa yang pulang suci
kepada Pemilik Segala Kuasa.
ⒷⒽⓌ
tertangkap tangan menggadai amanah.
Yang lain masih menari di atas panggung,
memamerkan gaji, mobil, dan tunjangan jabatan,
dari pajak rakyat yang kian lelah.
Gaji besar jadi topeng,
fasilitas mewah jadi beban,
sementara rasa malu sudah lama mati,
dan sungkan terkubur bersama nurani.
Lidah mereka pandai berkelit,
retorika dibentangkan seperti tirai,
menutupi kenyataan pahit:
tak ada yang sungguh memikirkan rakyat.
Jika ada program, itu hanya cermin
untuk menyanjung diri sendiri,
bukan untuk menegakkan keadilan,
bukan untuk menghapus lapar di dapur rakyat.
Namun, wahai jiwa,
jangan biarkan amarah menenggelamkan doa.
Jangan biarkan kecewa merampas tenang.
Sebab setiap dusta ada catatannya,
setiap tamak ada balasannya,
dan setiap kursi kuasa ada bara api di bawahnya.
Tetaplah engkau jernih di tengah lumpur,
seperti sungai yang tak berhenti mengalir.
Tetaplah engkau tegar di tengah badai,
seperti pohon yang berakar dalam iman.
Bangunlah dirimu jadi cahaya kecil,
meski istana gelap menolak terang.
Sebab yang abadi bukanlah warisan nama,
bukan pula gelar yang digenggam.
Yang abadi hanyalah jiwa yang pulang suci
kepada Pemilik Segala Kuasa.
Comments
Post a Comment