”Ketika Jalan Berbicara, Langit Mendengar”

 ”Ketika Jalan Berbicara, Langit Mendengar”

 

Di jalan-jalan kota, suara pecah seperti gelombang,
ribuan orang turun membawa dada yang sesak.
Bendera lusuh, poster penuh coretan,
menjadi bahasa terakhir setelah pintu-pintu rapat terkunci.
 
Di layar ponsel, dunia lain bergetar,
kata-kata tajam berlari lebih cepat dari patroli.
Emoji jadi peluru, meme jadi tamparan,
dan kejujuran meledak lewat jempol rakyat.
 
Namun di balik pagar besi gedung megah,
pemimpin tersenyum di depan kamera.
*“Semua baik-baik saja, rakyat mendukung.*
*Kita sudah berada ditrack yang benar”* katanya.
Seakan telinga bisa memilih hanya mendengar tepuk tangan.
 
Mereka percaya angka, grafik, dan laporan tebal,
seakan statistik bisa menutup wajah letih tukang ojek,
atau menenangkan ibu yang menghitung harga beras
dengan jantung berdegup cemas.
 
Empati hanyut dalam pidato panjang,
seperti kapal tanpa jangkar di laut propaganda.
Rakyat bukan butuh kata manis,
tetapi telinga yang mau mendengar,
dan hati yang mau berbagi.
 
Namun lihatlah,
di jalan yang panas dan bising itu,
ada keberanian tumbuh,
ada solidaritas menyatu.
Mahasiswa, buruh, pedagang,
semua menulis sejarah dengan langkah kaki.
 
Satire pun lahir dari luka:
“Terima kasih, pembangunan memang nyata,
sayang, kami belum tahu cara menukar biaya rumah jabatan
dengan harga beras yang melonjak.”
 
Tertawa getir, tapi tetap berjalan.
Karena di balik protes ada cinta,
cinta pada negeri yang terlalu sayang untuk dibiarkan tenggelam.
 
Dan pada akhirnya,
ketika semua kata telah diteriakkan,
ketika semua spanduk usang dan cat mulai luntur,
mari kita titipkan negeri ini
kepada Yang Maha Mendengar,
yang empatinya tak pernah kering,
yang keadilannya melampaui sidang mana pun,
yang kasih sayangnya tak pernah menolak rakyat sekecil apa pun.
 
Dan ketika teriakan reda,
ketika malam menyelimuti jalanan kosong,
di sana, di ujung doa,
rakyat dan penguasa sama-sama berdiri telanjang:
hanya amal, niat, dan ketulusan
yang menjadi ukuran.
 
Ya Allah,
Engkau yang Maha Mendengar lebih dari semua mikrofon,
Engkau yang Maha Melihat lebih dari semua kamera,
jadikan negeri ini rumah yang adil,
bukan panggung bagi segelintir yang berkuasa.
 
Kuatkan suara kecil agar jadi gema,
luruskan langkah besar agar tak tersesat,
dan tanamkan empati di dada pemimpin,
seperti hujan yang jatuh di tanah kering.
 
Sebab kami percaya,
suara rakyat di jalan dan doa di langit
pada akhirnya akan bertemu
dan mengubah arah sejarah.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts