”Khusyuk: Jalan Pulang yang Tak Pernah Lurus”

 ”Khusyuk: Jalan Pulang yang Tak Pernah Lurus”
 

Sholat…
adalah panggilan paling sunyi dari langit,
bagi jiwa yang lelah berumah di dunia.
Ia bukan sekadar kewajiban,
tapi kesempatan
untuk pulang,
walau sesaat,
ke rumah tempat kembalinya jiwa.
 
Namun, betapa seringnya engkau berdiri,
tapi hatimu berkelana entah di mana.
Bibirmu mengucap Asma-Nya,
sedangkan pikiranmu sibuk dengan urusan yang tak ada dalam Buku-Nya.
 
Kadang kau tenggelam dalam damai yang tak bisa dijelaskan,
kadang kau bahkan lupa
sujud di rakaat ke berapa.
 

 
Mengapa khusyukmu naik dan turun?
Karena hatimu bukan batu,
ia adalah danau yang mudah keruh
oleh sungai dunia yang kau undang sendiri.
 
Apa yang kau hasratkan,
apa yang kau genggam erat,
apa yang kau simpan dalam pikiran sebelum takbir—
semuanya ikut duduk bersama dalam majelis sholatmu.
 
Hati yang kenyang oleh dunia,
akan rindu saat berdiri di hadapan-Nya.
Dan hati yang sibuk mengejar selain-Nya,
akan sulit diam dalam pangkuan-Nya.
 

 
Khusyuk itu bukan prestasi,
tapi anugerah.
Ia tak datang pada yang sekedar hafal arti bacaan,
tapi pada mereka yang membersihkan jalan
menuju perjumpaan.
 
Khusyuk itu seperti embun pagi—
datang lembut,
tak bisa dipaksa,
tapi bisa disambut
oleh hati yang bersih dan lapang.
 
Ia tumbuh dari dzikir dalam keramaian,
dari lidah yang dijaga,
dari rezeki yang disucikan,
dari waktu yang tak seluruhnya untuk dunia.
 

 
Maka jangan sombong saat engkau khusyuk,
karena itu bukan hasilmu.
Dan jangan berputus asa saat engkau lalai,
karena itu isyarat:
Tuhan sedang merindukanmu lebih dalam.
 
Bersihkan tempat duduk-Nya dalam hatimu.
Kurangi suara bising di luar sholatmu,
agar jiwamu tak gaduh
saat bertemu dalam sunyi.
 

 
Jangan terburu bangkit dari sujud,
karena mungkin di sanalah
khusyuk sedang menunggumu.
 
Dan bila pikiranmu telah letih mengembara,
kembalilah lagi dalam takbir.
Bawa seluruh dirimu,
termasuk cacat dan gelisahnya,
karena Tuhan tak menunggu yang sempurna,
tapi yang jujur ingin pulang.
 

 
Khusyuk bukan puncak, tapi perjalanan.
Dan selama engkau masih berusaha,
meski tertatih,
meski terbata,
langit akan tetap membuka pintunya untukmu.
 
 
ⒷⒽⓌ.

Comments

Popular Posts