”Luka dan Janji Waktu”
”Luka dan Janji Waktu”
Di jalan-jalan kota, gedung menjulang,
namun di balik kaca megahnya
masih terdengar langkah rakyat yang letih.
Di tanah subur yang dijanjikan leluhur,
sawah menguning, laut berlimpah,
tapi tak semua perut kenyang,
tak semua anak bisa bermimpi panjang.
Waktu berjalan, tapi luka tak sembuh,
keadilan kerap singgah hanya sebentar.
Ada meja megah tempat keputusan dibuat,
namun kursinya dingin,
tak mampu merasakan panasnya perut lapar,
tak mendengar detak resah di gubuk bambu.
Nepotisme menulis peta rahasia,
“tak kenal maka tak dapat” jadi mantra,
dan hukum pun berwajah dua:
tajam bagi lemah, tumpul bagi penguasa.
Sementara nama besar diwariskan
lebih indah dari sistem yang adil,
lebih megah dari kerja sunyi
membangun kesejahteraan bersama.
Oh negeri,
engkau kaya raya dalam tanah dan lautmu,
tapi miskin dalam kasih pemimpinnya.
Kekayaan alam digali tanpa doa,
ekonomi bertumbuh tanpa jiwa,
dan keberlanjutan program
selalu gugur di altar ambisi pribadi.
Namun jangan kau kira
gelap bisa menelan semua cahaya.
Di gang sempit masih terdengar tawa bocah,
di ladang kering masih ada petani
yang menanam dengan doa,
di ruang-ruang sunyi masih ada jiwa-jiwa
yang menolak tunduk pada dusta.
Mereka adalah bara kecil
yang menunggu angin perubahan,
mereka adalah saksi
bahwa cinta tanah ini tak pernah padam.
Dari mereka, kita belajar
bahwa harapan tak lahir di gedung tinggi,
tapi di dada manusia yang jujur.
Maka bangkitlah,
jangan tunduk pada bayangan panjang tirani.
Setiap langkah kecil,
setiap suara tulus,
adalah sungai yang akan bermuara
menjadi samudra keadilan.
Dan bila dunia tampak berat sebelah,
ingatlah—
ada Hakim yang tak bisa disuap,
ada Cinta yang tak bisa dikubur,
ada Cahaya yang tak bisa dipadamkan.
Pada akhirnya,
keadilan bukan hadiah para elit,
tetapi janji suci
dari Sang Pemilik Waktu.
ⒷⒽⓌ
namun di balik kaca megahnya
masih terdengar langkah rakyat yang letih.
Di tanah subur yang dijanjikan leluhur,
sawah menguning, laut berlimpah,
tapi tak semua perut kenyang,
tak semua anak bisa bermimpi panjang.
Waktu berjalan, tapi luka tak sembuh,
keadilan kerap singgah hanya sebentar.
Ada meja megah tempat keputusan dibuat,
namun kursinya dingin,
tak mampu merasakan panasnya perut lapar,
tak mendengar detak resah di gubuk bambu.
Nepotisme menulis peta rahasia,
“tak kenal maka tak dapat” jadi mantra,
dan hukum pun berwajah dua:
tajam bagi lemah, tumpul bagi penguasa.
Sementara nama besar diwariskan
lebih indah dari sistem yang adil,
lebih megah dari kerja sunyi
membangun kesejahteraan bersama.
Oh negeri,
engkau kaya raya dalam tanah dan lautmu,
tapi miskin dalam kasih pemimpinnya.
Kekayaan alam digali tanpa doa,
ekonomi bertumbuh tanpa jiwa,
dan keberlanjutan program
selalu gugur di altar ambisi pribadi.
Namun jangan kau kira
gelap bisa menelan semua cahaya.
Di gang sempit masih terdengar tawa bocah,
di ladang kering masih ada petani
yang menanam dengan doa,
di ruang-ruang sunyi masih ada jiwa-jiwa
yang menolak tunduk pada dusta.
Mereka adalah bara kecil
yang menunggu angin perubahan,
mereka adalah saksi
bahwa cinta tanah ini tak pernah padam.
Dari mereka, kita belajar
bahwa harapan tak lahir di gedung tinggi,
tapi di dada manusia yang jujur.
Maka bangkitlah,
jangan tunduk pada bayangan panjang tirani.
Setiap langkah kecil,
setiap suara tulus,
adalah sungai yang akan bermuara
menjadi samudra keadilan.
Dan bila dunia tampak berat sebelah,
ingatlah—
ada Hakim yang tak bisa disuap,
ada Cinta yang tak bisa dikubur,
ada Cahaya yang tak bisa dipadamkan.
Pada akhirnya,
keadilan bukan hadiah para elit,
tetapi janji suci
dari Sang Pemilik Waktu.
Comments
Post a Comment