“Makkah dan Madinah di Dalam Diri”
“Makkah dan Madinah di Dalam Diri”
Makkah adalah api.
Ia menyalakan sisi terdalam dari diri yang lupa arah.
Panasnya bukan hanya di udara,
tapi di dada—
di titik tempat ego masih ingin berkuasa.
Ia menyalakan sisi terdalam dari diri yang lupa arah.
Panasnya bukan hanya di udara,
tapi di dada—
di titik tempat ego masih ingin berkuasa.
Kerumunan di sana bukan sekadar manusia,
tapi cermin yang memantulkan wajah kita sendiri:
gelisah, terburu-buru, ingin mendahului.
Lalu Tuhan berbisik dari tengah padang tandus:
“Tenanglah, ini bukan tentang cepat,
ini tentang pasrah.”
Makkah mematahkan gengsi,
menghapus nama,
meninggalkan kita telanjang di hadapan makna.
Dan setelah terbakar habis,
kita melangkah menuju Madinah.
Di sana, angin lebih lembut,
waktu berjalan pelan seperti doa.
Madinah adalah air—
menyentuh luka yang baru disadari,
menenangkan jiwa yang telah kalah dengan indah.
Ia tidak menguji,
ia memeluk.
Tidak menantang,
tapi mengajarkan cinta yang tak perlu suara.
Makkah memaksa kita tunduk.
Madinah mengajarkan kita lembut.
Makkah membersihkan.
Madinah memperindah.
Dan di antara keduanya,
jiwa belajar berjalan dengan seimbang:
tegas tanpa keras,
tenang tanpa pasif,
tunduk tanpa kehilangan cahaya.
Karena sejatinya,
setiap perjalanan menuju Tuhan
adalah dua langkah yang tak terpisah:
satu dalam panas Makkah yang membakar,
satu dalam sejuk Madinah yang menyembuhkan.
Comments
Post a Comment