”Masih Kupeluk Langit”
”Masih
Kupeluk Langit”
Aku belum berhenti berdoa,
meski langit kerap diam,
tak memberi tanda,
tak mengucap iya,
tapi juga tak menolak.
Kupanjatkan pinta setiap malam,
bukan tentang harta,
bukan tentang nama,
hanya satu:
agar anakku tak dijauhkan dari cahaya.
Sudah kutanam harap di ladang takdir,
kusiram dengan sabar yang pahit,
kutunggu meski waktu menggigil,
karena cinta orangtua tak kenal musim kemarau.
Apakah salah jika aku berharap lebih?
Bukan tamak—ini tentang perjuangan,
ini tentang amanah,
ini tentang anakku,
untuk melihat hidup dari jendela yang terang.
Jika langit belum menjawab,
bukan berarti Tuhan tak dengar.
Kadang Dia menunda
agar aku lebih berusaha,
lebih yakin,
lebih kuat,
lebih lurus.
Dan aku pun memilih bertahan:
bukan pasrah—
tapi percaya.
Bahwa suatu hari nanti,
doa ini akan menemukan jalannya,
menyelinap ke langit,
dan pulang sebagai kabar baik
yang tak lagi kutahan air matanya.
ⒷⒽⓌ
Aku belum berhenti berdoa,
meski langit kerap diam,
tak memberi tanda,
tak mengucap iya,
tapi juga tak menolak.
Kupanjatkan pinta setiap malam,
bukan tentang harta,
bukan tentang nama,
hanya satu:
agar anakku tak dijauhkan dari cahaya.
Sudah kutanam harap di ladang takdir,
kusiram dengan sabar yang pahit,
kutunggu meski waktu menggigil,
karena cinta orangtua tak kenal musim kemarau.
Apakah salah jika aku berharap lebih?
Bukan tamak—ini tentang perjuangan,
ini tentang amanah,
ini tentang anakku,
untuk melihat hidup dari jendela yang terang.
Jika langit belum menjawab,
bukan berarti Tuhan tak dengar.
Kadang Dia menunda
agar aku lebih berusaha,
lebih yakin,
lebih kuat,
lebih lurus.
Dan aku pun memilih bertahan:
bukan pasrah—
tapi percaya.
Bahwa suatu hari nanti,
doa ini akan menemukan jalannya,
menyelinap ke langit,
dan pulang sebagai kabar baik
yang tak lagi kutahan air matanya.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment