“Mata yang Melihat Indonesia”
“Mata yang Melihat Indonesia”
— Pancasila harus terus Sakti.
Di sini, kita sering mencaci tanah sendiri,
menyebutnya kusut, kacau, tak karuan.
Kita ejek satu sama lain,
seolah negeri ini tak pantas dicinta.
Kita lupa, dari kejauhan sana —
mata asing memandang kita dengan kagum:
mereka heran, demokrasi ini tetap tumbuh di tanah penuh beda,
mereka takjub, persaudaraan ini tak runtuh meski badai mendera.
Barangkali kita berdiri terlalu dekat,
hingga yang kita lihat hanyalah retak-retak di dinding rumah.
Padahal jika kita mundur selangkah saja,
akan tampak betapa kokohnya fondasi yang kita jaga bersama.
“Beauty is in the eye of the beholder,” kata orang bijak.
Mungkin negeri ini tak sempurna —
tapi di dalam ketidaksempurnaan itu ada kekuatan:
kegigihan untuk terus bersatu,
keberanian untuk terus memperbaiki,
harapan yang tak pernah padam meski sering dipadamkan.
Wahai anak muda negeri ini,
belajarlah melihat Indonesia dengan mata yang adil —
lihat luka, tapi juga lihat upaya menyembuhkannya.
Lihat kekurangan, tapi jangan abaikan cahaya yang tumbuh dari dalamnya.
Karena mencinta bukan berarti menutup mata dari cela,
tapi percaya bahwa kita bisa menjadikannya lebih baik.
Dan cinta yang paling besar,
adalah cinta yang tetap memilih tinggal,
tetap berjuang,
tetap percaya —
meski dunia kadang meragukan.
Sebab tanah ini bukan sekadar warisan sejarah,
ia adalah titipan Tuhan —
tempat kita diuji untuk menjaga, merawat, dan memuliakannya.
Dan setiap langkah kecil untuk memperbaiki negeri ini,
adalah sepotong doa yang terwujud dalam tindakan.
Maka cintailah Indonesia, bukan hanya dengan kata-kata,
tetapi dengan kerja, dengan kejujuran, dengan kesabaran.
Karena mungkin, di mata Tuhan,
cinta kita kepada negeri ini adalah wujud cinta kita kepada-Nya.
ⒷⒽⓌ
menyebutnya kusut, kacau, tak karuan.
Kita ejek satu sama lain,
seolah negeri ini tak pantas dicinta.
Kita lupa, dari kejauhan sana —
mata asing memandang kita dengan kagum:
mereka heran, demokrasi ini tetap tumbuh di tanah penuh beda,
mereka takjub, persaudaraan ini tak runtuh meski badai mendera.
Barangkali kita berdiri terlalu dekat,
hingga yang kita lihat hanyalah retak-retak di dinding rumah.
Padahal jika kita mundur selangkah saja,
akan tampak betapa kokohnya fondasi yang kita jaga bersama.
“Beauty is in the eye of the beholder,” kata orang bijak.
Mungkin negeri ini tak sempurna —
tapi di dalam ketidaksempurnaan itu ada kekuatan:
kegigihan untuk terus bersatu,
keberanian untuk terus memperbaiki,
harapan yang tak pernah padam meski sering dipadamkan.
Wahai anak muda negeri ini,
belajarlah melihat Indonesia dengan mata yang adil —
lihat luka, tapi juga lihat upaya menyembuhkannya.
Lihat kekurangan, tapi jangan abaikan cahaya yang tumbuh dari dalamnya.
Karena mencinta bukan berarti menutup mata dari cela,
tapi percaya bahwa kita bisa menjadikannya lebih baik.
Dan cinta yang paling besar,
adalah cinta yang tetap memilih tinggal,
tetap berjuang,
tetap percaya —
meski dunia kadang meragukan.
Sebab tanah ini bukan sekadar warisan sejarah,
ia adalah titipan Tuhan —
tempat kita diuji untuk menjaga, merawat, dan memuliakannya.
Dan setiap langkah kecil untuk memperbaiki negeri ini,
adalah sepotong doa yang terwujud dalam tindakan.
Maka cintailah Indonesia, bukan hanya dengan kata-kata,
tetapi dengan kerja, dengan kejujuran, dengan kesabaran.
Karena mungkin, di mata Tuhan,
cinta kita kepada negeri ini adalah wujud cinta kita kepada-Nya.
Comments
Post a Comment