”Menepi dari Hiruk Kuasa”

 ”Menepi dari Hiruk Kuasa”
 

Di tengah riuh yang tak lagi jernih,
aku duduk memandang jauh
ke arah gedung-gedung yang gemerlap
namun redup dalam rasa percaya.
 
Kebijakan datang seperti ombak tiba-tiba,
tanpa angin yang memberi kabar,
menyapu pantai,
lalu surut meninggalkan pasir yang acak.
 
Aku pernah berlari mengejar sidang dan rapat,
mengirim suara lewat surat,
menitip harapan di forum-forum yang katanya untuk rakyat.
Namun telinga besar itu lebih suka mendengar
gaung suaranya sendiri,
dan mata yang seharusnya menatap keluar
terlalu sibuk bercermin.
 
Maka aku belajar menanam benih
di tanah yang bisa kuraba,
menyirami usaha kecil
dengan peluh yang kupahami ujungnya,
menyulam hari-hari
dengan tawa keluarga yang nyata.
 
Aku belajar bahwa sebuah kebun kecil
bisa lebih jujur daripada ruang sidang,
dan suara ayam di pagi hari
lebih tulus daripada pidato panjang
yang tak pernah menyentuh bumi.
 
Bukan berarti menyerah,
tapi menjaga bara agar tak padam
di tengah angin kebijakan yang tak tentu arah.
Bara itu kuletakkan di bawah abu,
menunggu waktu yang tepat
untuk kembali menyala.
 
Mungkin suatu hari,
ombak itu akan belajar bertanya
ke mana ia harus menuju.
Sampai saat itu tiba,
aku akan tetap di sini—
menjaga kebun kecilku,
menulis mimpi di tanah basah,
membiarkan angin membawa bisikannya
ke telinga siapa saja yang masih mau mendengar.
 
Di sini,
harapan tumbuh tanpa izin siapa pun,
selain Tuhan dan matahari pagi.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts