“Menikmati Ketatnya Hidup”

 “Menikmati Ketatnya Hidup”
 
 
Hidup kadang seperti baju yang dikecilkan waktu—
masih layak pakai,
tapi terasa mengikat di dada, sempit di gerak.
Kita memaksakan langkah di jalan yang terus menyempit,
dengan senyum yang ditambal harapan,
dan tawa yang kadang hanya topeng dari lelah.
 
Kita ingin rehat,
tapi hari-hari mendesak seperti pintu yang nyaris tertutup.
Kita ingin menikmati,
namun waktu melaju seperti kereta tanpa jendela.
Kita ingin bahagia,
tapi apa daya, sebagian dari kita bahkan lupa rasanya.
 
Tak ada pujangga di ruang tunggu BPJS.
Tak ada filsafat di antara potongan listrik dan sisa pulsa.
Yang ada:
seorang ibu yang membagi mie instant menjadi dua,
seorang ayah yang menyembunyikan cemas di balik senyum tipis,
dan seorang anak muda yang masih percaya bahwa besok bisa lebih baik—meski tak ada jaminan.
 
Namun di tengah hidup yang terus mengetat,
ada sisa-sisa kelegaan yang sederhana:
angin sore yang membelai pelan,
lagu lama dari radio dapur,
canda tanpa naskah di meja makan,
dan tidur siang tanpa target.
 
Mungkin kebahagiaan bukan soal besar.
Bukan tentang menang atau berhasil.
Tapi tentang bertahan tanpa kehilangan lembutnya hati.
Tentang bisa berkata:
“aku lelah, tapi belum selesai.”
Atau:
“hidupku berat, tapi tidak pahit.”
 
Karena mungkin,
dalam dunia yang selalu menuntut laju,
perlawanan paling tenang adalah memilih untuk diam sejenak.
Menyesap teh perlahan.
Menatap langit tanpa tujuan.
Dan mengakui bahwa:
aku juga manusia—dan itu seharusnya cukup.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts