"Menjembatani Uang Dan Harapan"

 "Menjembatani Uang Dan Harapan"

Darah segar di nadi yang membeku


 Pemerintah menabur 200 triliun ke nadi perbankan,
seperti darah segar yang mengalir ke jantung ekonomi
yang lama terengah dalam detak lamban.
Harapannya:
uang menjadi benih,
benih menjadi pabrik,
pabrik menjadi lapangan kerja,
dan lapangan kerja menjadi kehidupan.
 
Dalam kitab makroekonomi kita membaca:
jika konsumsi dan investasi naik, maka pertumbuhan pun merekah;
jika jumlah uang dan kecepatannya bertambah,
maka pendapatan pun mengembang,
selama harga tetap jinak di tempatnya.
Begitu indah dalam rumus,
begitu sederhana di papan tulis.
 
Namun realitas bukan ruang kelas.
Uang tak berjalan di atas grafik,
melainkan di jalan-jalan berdebu yang penuh jebakan.
Dana mengendap di bank,
tak berani mengalir ke pabrik, ke kebun, ke pelabuhan,
karena jalan menuju dunia usaha
masih diliputi duri, ranjau, dan bayang-bayang gelap.
 
Ingin membangun pabrik?
Harus melewati lorong izin yang panjang dan pengap,
di mana setiap stempel menuntut upeti dalam senyap.
Ingin membeli tanah?
Harus berdamai dengan mafia yang menguasai sertifikat,
menjajakan keadilan seperti barang dagangan.
Ingin mendirikan bangunan?
Bersiaplah menyisihkan anggaran
untuk “uang keamanan” para preman.
Mendatangkan mesin?
Menunggu berbulan di bea cukai,
bernegosiasi di balik meja yang dingin.
Merekrut pekerja?
Melewati birokrasi yang lamban,
yang diam-diam meminta pelicin agar bergerak.
Dan ketika akhirnya barang jadi diproduksi,
pajaknya mencakar seperti harimau kelaparan.
 
Beginilah kita menanam harapan
di atas tanah gersang yang menelan.
Beginilah kita menyalurkan 200 triliun,
ke saluran yang retak dan berlumpur.
 
Maka jangan heran
jika uang memilih diam,
bersembunyi di surat utang negara yang aman,
daripada melangkah ke dunia nyata
yang penuh jebakan ketidakpastian.
 
Kita tidak kekurangan uang — kita kekurangan kepercayaan.
Kita tidak kekurangan modal — kita kekurangan keberpihakan.
Kita tidak kekurangan pemodal —
kita kekurangan jaminan kepastian.
Kita tidak kekurangan niat membangun —
kita kekurangan negara yang melindungi, bukan malah memalak.
 
Yang harus kita bangun bukan hanya dana,
tetapi jalan tempat dana itu mengalir.
Bukan menambah subsidi,
melainkan menebas rantai perizinan yang membelit.
Bukan menambah regulasi,
melainkan memangkasnya hingga sederhana dan bersih.
Bukan menambah aparat,
melainkan menyucikan yang sudah ada dari nafsu rente.
 
Karena pertumbuhan bukan lahir dari ketakutan,
melainkan dari keberanian.
Bukan tumbuh dari curiga,
melainkan dari rasa percaya.
Uang hanya mengalir
di tanah yang bebas dari racun pungli,
dan investasi hanya tumbuh
di udara yang bersih dari korupsi.
 
Dan ketika semua upaya telah dilakukan,
ketika birokrasi telah dibersihkan,
ketika jalan telah dibuka dan penghalang disingkirkan,
kita harus menundukkan kepala:
bahwa keberhasilan bukan semata hasil perhitungan,
melainkan anugerah dari langit.
Bahwa mesin, tanah, dan tenaga kerja
hanyalah alat yang bisu;
yang menumbuhkan buahnya
adalah jiwa yang jernih dan hati yang tulus.
 
Sebab apa arti pertumbuhan tanpa keadilan?
Apa makna kekayaan tanpa keberkahan?
Biarlah kita membangun bukan untuk menambah angka,
melainkan untuk memuliakan martabat manusia.
Bukan untuk menumpuk harta,
melainkan untuk menebar manfaat.
 
Agar kelak sejarah mencatat:
negeri ini pernah berani
membersihkan jalannya sendiri,
dan pernah percaya
bahwa Tuhan takkan menyia-nyiakan
bangsa yang bersungguh-sungguh memperbaiki diri.
ⒷⒽⓌ


Comments

Popular Posts