“Mesin yang Tak Bergerak”

 “Mesin yang Tak Bergerak”
 

Negeri ini punya mesin bernama birokrasi,
tapi suaranya kini hanya dengung tanpa gerak.
Roda-rodanya berkarat oleh mereka yang malas berubah,
oli reformasi mengering di botol konsep dan seminar.
 
Setiap tahun ide reformasi digelar,
peta jalan digambar ulang,
namun langkah tetap di tempat—
tak ada leadership,
karena mereka lebih sibuk memelihara kursi daripada melakukan perubahan.
 
Polisi duduk di jabatan sipil,
tanpa jejak pengalaman, tanpa paham akar kerja.
Yang layak malah terpinggirkan,
karena penguasa lebih memilih seragam daripada kompetensi.
 
Jenjang jabatan fungsional dibuat seolah ilmiah,
padahal kebijakannya tanpa arah dan tanpa jiwa,
banyak jebakan berlapis angka dan persetujuan.
Orang berprestasi terhenti di lorong evaluasi,
sementara yang pandai bersilat birokrasi dan tahu jalan koneksi,
naik ke atas panggung.
 
Diklat jadi museum gagasan basi,
yang dibutuhkan tak pernah ada,
yang ada tak pernah berguna.
Dan di sudut ruangan, pungli masih berbisik,
korupsi masih menari dengan senyum formal.
 
Kebijakan reformasi akhirnya beku,
hidup segan, mati pun tak disadari.
Tak ada arah, tak ada visi—
hanya aturan yang berputar di lingkaran tanpa henti,
menjadi fosil administratif di era teknologi.
 
Ini bukan stagnasi
ini pembusukan yang rapi,
dibungkus jargon efisiensi,
dibacakan dalam notulen reformasi.
 
Wahai pengelola manusia negeri,
kau lupa bahwa manusia bukan spreadsheets,
bukan formasi kaku, bukan barisan data yang menunggu diperintah,
melainkan jiwa yang haus makna dan pertumbuhan.
 
Jika terus begini,
ASN akan menjadi kerumunan tanpa arah—
berjalan di treadmill perubahan,
lelah, tapi tak pernah beranjak ke mana-mana.
 
Namun tetaplah berharap—
di balik sunyi sistem yang membatu,
masih ada hati yang berdetak jujur,
masih ada tangan yang menolak tunduk pada kegelapan.
 
Mereka memang hanya sebagian kecil, tapi nyata.
Dan dari merekalah, cahaya akan menyala lagi,
menyentuh yang lupa, mengingatkan yang lalai,
bahwa bekerja bagi negeri adalah ibadah,
bukan sekadar rutinitas tanpa jiwa.
 
Sebab yang mematikan birokrasi bukan kegagalan,
melainkan ketika manusia di dalamnya
kehilangan arah, makna, dan keberanian
untuk berkata: “Sudah cukup stagnasi ini.”
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts