“Negeri Dalam Data”

 “Negeri Dalam Data”
 

Di negeri yang penuh angka,
hati rakyat dihitung dengan BPS saja.
Katanya ekonomi tumbuh stabil,
padahal warung tutup dan dapur sunyi senyap.
 
Pengangguran bukan krisis,
hanya relokasi sumber daya katanya.
PHK jadi narasi “adaptasi”,
sementara perut tak bisa ikut bertransformasi.
 
Harga naik bukan inflasi,
hanya fluktuasi musiman,
seperti luka yang dianggap gigitan nyamuk,
padahal sudah bernanah bertahun-tahun.
 
Korupsi?
Ah, itu bukti hukum berjalan!
Lihat—mereka ditangkap,
lalu disambut bunga saat bebas,
dan kembali duduk di kursi jabatan.
 
Tambang ilegal membelah bumi,
hutan diganti sawit dan janji,
lalu warga diminta dialog…
dengan alat berat yang sudah parkir di halaman rumahnya.
 
Pemimpin turun ke pasar,
bukan menawar, tapi selfie.
Meninjau harga sambil live,
sementara pedagang menunggu pembeli yang tak kunjung datang.
 
Kita katanya harus bersyukur,
karena negara lain lebih buruk.
Tapi tak ada gunanya membandingkan luka,
kalau yang kita butuhkan adalah obat dan rasa peduli.
 
Survei bilang:
“Rakyat puas.”
Mungkin yang ditanya bukan kami,
tapi spanduk dan baliho di simpang jalan.
 
Namun di balik segala kelindan kata,
rakyat tak diam.
Mereka mengikat sabar dengan doa,
menganyam harap di dapur kecilnya,
dan menanam tekad di ladang sempit yang tersisa.
 
Karena negeri ini bukan milik mereka yang duduk,
tapi milik mereka yang bertahan,
yang tetap jujur meski dikhianati,
yang terus hidup meski diperas berkali-kali.
 

 
Jika kau tanya, apa harap kami?
 
Bukan janji manis dalam konferensi,
bukan angka yang berdansa di layar presentasi,
tapi satu hal yang tak bisa dibungkus:
keadilan yang nyata, dan pemimpin yang merasa.
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts