”Negeri Tanpa Pintu”

 ”Negeri Tanpa Pintu”
 
Di negeri ini,
orang bangun pagi bukan untuk mengejar mimpi,
tapi untuk mengejar pekerjaan
yang makin hari
makin tak terlihat pintunya.
 
Ijazah digenggam,
pengalaman dibawa,
tapi lowongan seperti lorong gelap
yang tak berujung cahaya.
 
Seorang ayah menghela napas
di bawah baliho besar bertuliskan 
“Transformasi Ekonomi Nasional. Kesejahteraan untuk Semua.”
Tapi sakunya kosong,
dan anaknya bertanya
kapan bisa masuk kuliah.
 
Mereka tak malas.
Mereka hanya kelelahan mencari
pintu yang tak dibuka.
 
Sementara itu,
korupsi terus berbisik lirih
di antara ruangan rapat dan tender,
berjalan dengan tenang
melewati pagar hukum yang banyak berlubang.
 
Sistem tidak dibenahi,
hanya diburu pelakunya,
lalu dipamerkan seperti trofi
tanpa menyentuh akar yang melahirkan mereka.
 
Ekonomi dikelola
seperti ruang tertutup:
hanya segelintir yang tahu arah,
hanya segelintir yang ikut menulis nasib.
 
Di balik program-program yang megah,
orang tak melihat jembatan
menuju kenyataan yang mereka jalani.
Pertumbuhan dikejar,
tapi tanpa keberpihakan,
ia tumbuh ke atas,
bukan ke samping,
apalagi ke bawah.
 
Kebijakan bergerak seperti kabut,
indah dilihat dari jauh,
tapi dingin dan asing saat disentuh.
 
Kroni melenggang masuk ke meja kebijakan,
sementara orang
tak tahu kepada siapa harus mengetuk.
Yang punya koneksi,
mendapat solusi.
Yang hanya punya kemampuan,
dipersilakan duduk bersabar.
 
Negeri ini tak butuh slogan baru.
Ia butuh arah yang jujur.
 
Bukan sekadar panggung yang megah,
tapi keadilan.
Bukan sekadar proyek,
tapi keberpihakan.
Bukan sekadar tangkap-menangkap,
tapi pembersihan sistem yang dalam dan sungguh-sungguh.
 
Sebab jika pintu terus tertutup,
rakyat akan kehilangan cara
untuk percaya.
 
Dan ketika harapan mati dalam diam,
tak akan cukup pidato
untuk menghidupkannya kembali.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts