”Negeri yang Lupa pada Akar”
”Negeri yang Lupa pada Akar”
Di ruang-ruang sunyi kantor pusat,
di mana peta dijajarkan seperti papan catur,
sebuah tangan menggambar garis lurus ke segala arah—
dan menyebutnya: kebijakan nasional.
Tapi di bawah sana,
di lembah yang diselimuti kabut pagi,
anak-anak berjalan ke sekolah
menyusuri jalan yang belum sempat diaspal,
dan ibu-ibu menanak doa dari tungku kayu.
Mereka tidak pernah ditanya
tentang garis lurus itu.
Di bawah langit yang lain,
di kaki bukit yang hijau dan lembab,
ada kepala desa menatap sawah yang retak,
menghitung janji yang tak pernah sampai
karena dana ditarik, aliran dipersempit,
dan keputusan harus menunggu
restu dari jauh.
Ia bertanya dalam hati,
“Apakah kami hanya bayangan
dari impian orang-orang di gedung tinggi itu?”
Dulu negeri ini berdiri dari perbedaan.
Dari suku, bahasa, dan keyakinan
yang dijahit dengan sabar oleh para pendiri bangsa.
Mereka tak ingin seragam,
mereka ingin setara.
Mereka tahu:
air sungai tak bisa disuruh mengalir dengan satu cara,
ia mencari jalannya sendiri menuju laut.
Kini,
air itu hendak disalurkan melalui pipa kebijakan tunggal,
agar mengalir sesuai selera pusat.
Otonomi yang dulu tumbuh dari tanah,
kini ujungnya dipangkas dengan alasan efisiensi dan kontrol.
Seolah setiap daun harus tumbuh
menghadap matahari yang sama.
Apakah mimpi harus tunggal,
ketika Tuhan sendiri mencipta manusia beraneka rupa?
Apakah suara langit di Jakarta
lebih murni dari doa petani di Wajo,
atau jerih perajin di Ende?
Kami bertanya untuk mengingatkan:
Kesatuan bukanlah keseragaman.
Ketaatan bukanlah kepasrahan.
Dan pembangunan tanpa jiwa
adalah bangunan tanpa nyawa.
Wahai negeri,
ingatlah:
Kebhinnekaan bukan hambatan,
ia adalah napas yang membuatmu hidup.
Dan otonomi di daerah—
bukan pemberian belas kasihan,
melainkan pengakuan akan kebijaksanaan
yang tersebar di setiap tanah air-Mu.
Jangan jadikan “kesatuan”
sebagai alasan untuk menyeragamkan jiwa.
Karena bangsa yang hidup dari seragam
akan mati karena kaku.
Biarlah daerah bermimpi dengan caranya sendiri,
asal arah anginnya tetap menuju kebaikan.
Biarlah pemerintah pusat menjadi langit,
dan daerah menjadi bumi;
langit memberi hujan,
bumi menumbuhkan kehidupan—
begitulah harmoni dicipta.
⸻
Wahai negeri,
negara ini lahir dari keberanian
untuk mengakui perbedaan.
Dari darah yang tumpah bukan karena ambisi,
tapi karena cinta pada tanah yang beragam rupa.
Jika kini pusat kembali menarik tali kekuasaan,
mungkin kita perlu bertanya:
apakah kita sedang maju,
atau hanya berputar kembali ke masa yang kita koreksi?
⸻
Dan bila engkau masih ingin menata segalanya
dari balik jendela gedung megah itu,
ingatlah:
pohon yang tumbuh tinggi
tetap butuh akar yang dalam.
Negeri tanpa akar daerah
akan rebah oleh angin sendiri.
⸻
Wahai tanah airku,
kembalilah ke janjimu semula:
untuk memeluk semua perbedaan,
untuk membiarkan bunga tumbuh dengan warnanya sendiri,
dan untuk percaya—
bahwa kebijaksanaan tidak hanya tinggal di pusat,
tetapi juga hidup di setiap hati rakyatmu.
ⒷⒽⓌ
di mana peta dijajarkan seperti papan catur,
sebuah tangan menggambar garis lurus ke segala arah—
dan menyebutnya: kebijakan nasional.
Tapi di bawah sana,
di lembah yang diselimuti kabut pagi,
anak-anak berjalan ke sekolah
menyusuri jalan yang belum sempat diaspal,
dan ibu-ibu menanak doa dari tungku kayu.
Mereka tidak pernah ditanya
tentang garis lurus itu.
Di bawah langit yang lain,
di kaki bukit yang hijau dan lembab,
ada kepala desa menatap sawah yang retak,
menghitung janji yang tak pernah sampai
karena dana ditarik, aliran dipersempit,
dan keputusan harus menunggu
restu dari jauh.
Ia bertanya dalam hati,
“Apakah kami hanya bayangan
dari impian orang-orang di gedung tinggi itu?”
Dulu negeri ini berdiri dari perbedaan.
Dari suku, bahasa, dan keyakinan
yang dijahit dengan sabar oleh para pendiri bangsa.
Mereka tak ingin seragam,
mereka ingin setara.
Mereka tahu:
air sungai tak bisa disuruh mengalir dengan satu cara,
ia mencari jalannya sendiri menuju laut.
Kini,
air itu hendak disalurkan melalui pipa kebijakan tunggal,
agar mengalir sesuai selera pusat.
Otonomi yang dulu tumbuh dari tanah,
kini ujungnya dipangkas dengan alasan efisiensi dan kontrol.
Seolah setiap daun harus tumbuh
menghadap matahari yang sama.
Apakah mimpi harus tunggal,
ketika Tuhan sendiri mencipta manusia beraneka rupa?
Apakah suara langit di Jakarta
lebih murni dari doa petani di Wajo,
atau jerih perajin di Ende?
Kami bertanya untuk mengingatkan:
Kesatuan bukanlah keseragaman.
Ketaatan bukanlah kepasrahan.
Dan pembangunan tanpa jiwa
adalah bangunan tanpa nyawa.
Wahai negeri,
ingatlah:
Kebhinnekaan bukan hambatan,
ia adalah napas yang membuatmu hidup.
Dan otonomi di daerah—
bukan pemberian belas kasihan,
melainkan pengakuan akan kebijaksanaan
yang tersebar di setiap tanah air-Mu.
Jangan jadikan “kesatuan”
sebagai alasan untuk menyeragamkan jiwa.
Karena bangsa yang hidup dari seragam
akan mati karena kaku.
Biarlah daerah bermimpi dengan caranya sendiri,
asal arah anginnya tetap menuju kebaikan.
Biarlah pemerintah pusat menjadi langit,
dan daerah menjadi bumi;
langit memberi hujan,
bumi menumbuhkan kehidupan—
begitulah harmoni dicipta.
Wahai negeri,
negara ini lahir dari keberanian
untuk mengakui perbedaan.
Dari darah yang tumpah bukan karena ambisi,
tapi karena cinta pada tanah yang beragam rupa.
Jika kini pusat kembali menarik tali kekuasaan,
mungkin kita perlu bertanya:
apakah kita sedang maju,
atau hanya berputar kembali ke masa yang kita koreksi?
Dan bila engkau masih ingin menata segalanya
dari balik jendela gedung megah itu,
ingatlah:
pohon yang tumbuh tinggi
tetap butuh akar yang dalam.
Negeri tanpa akar daerah
akan rebah oleh angin sendiri.
Wahai tanah airku,
kembalilah ke janjimu semula:
untuk memeluk semua perbedaan,
untuk membiarkan bunga tumbuh dengan warnanya sendiri,
dan untuk percaya—
bahwa kebijaksanaan tidak hanya tinggal di pusat,
tetapi juga hidup di setiap hati rakyatmu.
Comments
Post a Comment