”Negeri yang Menunggu Jujur”
”Negeri yang Menunggu Jujur”
Jakarta, beberapa hari ini kacau balau,
jalan raya jadi cermin kemarahan,
teriak rakyat berserak di udara,
sementara kursi kuasa tetap nyaman tak tergoyah.
Polisi kehilangan marwah,
diseret hujatan karena lupa menjaga nurani hukum.
Bukan tameng rakyat,
tapi bayangan ketakutan yang menutup wajah mereka.
Di gedung DPR, kata-kata berputar bagai roda kosong,
tak menyentuh tanah kehidupan sehari-hari.
Perilaku wakil tak lagi relevan,
dunia modern bergerak, mereka tertinggal
dalam pesta retorika tanpa makna.
Birokrasi membisu,
penuh yes men dan yes women,
yang tak berani berkata benar
karena takut kehilangan kursi dan tanda tangan.
Pejabat yang diam lebih bising
dari ribuan pengeras suara di jalanan.
Pemerintah berjalan tanpa empati,
membuat kebijakan seperti garis di atas kertas,
jauh dari derita di dapur-dapur rakyat,
jauh dari air mata di rumah-rumah kecil
yang bertahan hanya dengan doa.
Namun, di tengah keruntuhan itu,
sejarah selalu berbisik:
“Setiap zaman melahirkan keberanian baru,
setiap gelap akan menemukan pelita.”
Maka pertanyaan itu berdiri:
Apa yang harus diperbuat?
Oleh siapa?
Jawabannya tak tunggal:
oleh rakyat yang menolak tunduk,
oleh pemuda yang masih menyalakan api,
oleh pemimpin yang sudi merendah,
oleh siapa saja yang memilih jujur
di tengah dunia penuh kepura-puraan.
Bukan dengan kebencian,
tapi dengan keberanian yang jernih.
Bukan dengan hujatan,
tapi dengan karya yang nyata.
Bangsa ini tak butuh lagi bayangan palsu,
ia butuh manusia baru
yang berani menatap rakyat sebagai saudara,
bukan angka dalam laporan,
bukan suara dalam kotak pemilu semata.
Dan bila jalan terasa terlalu gelap,
ingatlah:
Tuhan menitipkan cahaya pada setiap hati yang tulus,
pada doa ibu yang tak pernah putus,
pada langkah kecil yang berbuat tanpa pamrih.
Negeri akan pulih
bukan oleh kuasa semata,
melainkan oleh kasih yang menyala.
Ketika hukum kembali tegak,
ketika wakil menjadi wakil,
ketika birokrasi menjadi alat pelayanan,
ketika pemerintah belajar merunduk pada derita rakyat,
maka cahaya itu akan kembali menyinari.
Wahai negeri,
bangkitlah dengan jiwa yang jernih.
Bangkitlah dengan hati yang bersih.
Karena kekuasaan hanyalah sementara,
tapi amanah adalah abadi.
Dan pada akhirnya,
segala jalan akan bermuara pada satu:
pada Sang Maha Kuasa,
yang menakar bukan jabatan,
bukan harta,
tapi seberapa kita setia
menjaga kehidupan sesama.
ⒷⒽⓌ
jalan raya jadi cermin kemarahan,
teriak rakyat berserak di udara,
sementara kursi kuasa tetap nyaman tak tergoyah.
Polisi kehilangan marwah,
diseret hujatan karena lupa menjaga nurani hukum.
Bukan tameng rakyat,
tapi bayangan ketakutan yang menutup wajah mereka.
Di gedung DPR, kata-kata berputar bagai roda kosong,
tak menyentuh tanah kehidupan sehari-hari.
Perilaku wakil tak lagi relevan,
dunia modern bergerak, mereka tertinggal
dalam pesta retorika tanpa makna.
Birokrasi membisu,
penuh yes men dan yes women,
yang tak berani berkata benar
karena takut kehilangan kursi dan tanda tangan.
Pejabat yang diam lebih bising
dari ribuan pengeras suara di jalanan.
Pemerintah berjalan tanpa empati,
membuat kebijakan seperti garis di atas kertas,
jauh dari derita di dapur-dapur rakyat,
jauh dari air mata di rumah-rumah kecil
yang bertahan hanya dengan doa.
Namun, di tengah keruntuhan itu,
sejarah selalu berbisik:
“Setiap zaman melahirkan keberanian baru,
setiap gelap akan menemukan pelita.”
Maka pertanyaan itu berdiri:
Apa yang harus diperbuat?
Oleh siapa?
Jawabannya tak tunggal:
oleh rakyat yang menolak tunduk,
oleh pemuda yang masih menyalakan api,
oleh pemimpin yang sudi merendah,
oleh siapa saja yang memilih jujur
di tengah dunia penuh kepura-puraan.
Bukan dengan kebencian,
tapi dengan keberanian yang jernih.
Bukan dengan hujatan,
tapi dengan karya yang nyata.
Bangsa ini tak butuh lagi bayangan palsu,
ia butuh manusia baru
yang berani menatap rakyat sebagai saudara,
bukan angka dalam laporan,
bukan suara dalam kotak pemilu semata.
Dan bila jalan terasa terlalu gelap,
ingatlah:
Tuhan menitipkan cahaya pada setiap hati yang tulus,
pada doa ibu yang tak pernah putus,
pada langkah kecil yang berbuat tanpa pamrih.
Negeri akan pulih
bukan oleh kuasa semata,
melainkan oleh kasih yang menyala.
Ketika hukum kembali tegak,
ketika wakil menjadi wakil,
ketika birokrasi menjadi alat pelayanan,
ketika pemerintah belajar merunduk pada derita rakyat,
maka cahaya itu akan kembali menyinari.
Wahai negeri,
bangkitlah dengan jiwa yang jernih.
Bangkitlah dengan hati yang bersih.
Karena kekuasaan hanyalah sementara,
tapi amanah adalah abadi.
Dan pada akhirnya,
segala jalan akan bermuara pada satu:
pada Sang Maha Kuasa,
yang menakar bukan jabatan,
bukan harta,
tapi seberapa kita setia
menjaga kehidupan sesama.
Comments
Post a Comment