”Negeri yang Tak Lagi Mendengar”
”Negeri
yang Tak Lagi Mendengar”
Ia berjalan sendiri,
bukan karena tak ada yang menemani,
tapi karena yakin jalan yang dipilih
tak perlu lagi dievaluasi.
Di belakangnya, barisan berdiri rapi,
menunduk dan tak berbeda suara.
Mereka tak bertanya,
dan ia tak percaya tentang bersimpang kata.
Segalanya tampak teratur dari atas sana—
peta, angka, dan laporan yang tersusun indah.
Namun di bawah langit yang sama,
banyak kedai yang mulai tutup berjual,
dan suara sendok di piring semakin jarang terdengar.
Rakyat tak banyak bicara,
bukan karena tak ingin,
tapi karena tahu tak akan didengar.
Dan diam yang terlalu lama
bisa berubah menjadi jarak yang tak mungkin lagi dijangkau.
Mereka tak meminta banyak,
hanya ingin yang berkuasa melihat dengan mata terbuka,
dan mendengar dengan telinga yang tak disaring
oleh pujian yang memabukkan atau bisik yang menjerat.
Sebab negeri ini pernah besar bukan karena kekuasaan,
melainkan karena kasih yang saling menjangkau,
dan keberanian untuk bertanya:
“Apakah aku masih benar hari ini?”
Barangkali ia belum sepenuhnya keliru,
tapi tak semua luka perlu restu untuk terasa.
Dan tak semua rakyat kuat menunggu
sampai ia turun dan melihat dari mata yang setara.
ⒷⒽⓌ
Ia berjalan sendiri,
bukan karena tak ada yang menemani,
tapi karena yakin jalan yang dipilih
tak perlu lagi dievaluasi.
Di belakangnya, barisan berdiri rapi,
menunduk dan tak berbeda suara.
Mereka tak bertanya,
dan ia tak percaya tentang bersimpang kata.
Segalanya tampak teratur dari atas sana—
peta, angka, dan laporan yang tersusun indah.
Namun di bawah langit yang sama,
banyak kedai yang mulai tutup berjual,
dan suara sendok di piring semakin jarang terdengar.
Rakyat tak banyak bicara,
bukan karena tak ingin,
tapi karena tahu tak akan didengar.
Dan diam yang terlalu lama
bisa berubah menjadi jarak yang tak mungkin lagi dijangkau.
Mereka tak meminta banyak,
hanya ingin yang berkuasa melihat dengan mata terbuka,
dan mendengar dengan telinga yang tak disaring
oleh pujian yang memabukkan atau bisik yang menjerat.
Sebab negeri ini pernah besar bukan karena kekuasaan,
melainkan karena kasih yang saling menjangkau,
dan keberanian untuk bertanya:
“Apakah aku masih benar hari ini?”
Barangkali ia belum sepenuhnya keliru,
tapi tak semua luka perlu restu untuk terasa.
Dan tak semua rakyat kuat menunggu
sampai ia turun dan melihat dari mata yang setara.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment