”Nikmat yang Terlupa”
”Nikmat yang Terlupa”
Kita hidup di tanah yang aman,
tanpa dentuman meriam,
tanpa bayang bom di atas kepala.
Kita menyalakan lampu,
air mengalir dari keran,
piring kita tak pernah benar-benar kosong.
Namun, sering kita abai.
Seakan semua datang karena kepintaran,
karena kerja keras,
karena hitungan strategi.
Padahal ada tangan tak terlihat,
yang menahan langit agar tak runtuh,
yang menjaga bumi agar tetap teduh.
Kita berlari mengejar angka,
menyusun rencana demi rencana,
menimbun harta dalam lemari besi,
seakan waktu milik kita,
seakan hidup tak akan pernah usai.
Sementara di sudut kota,
anak kecil mengais sisa nasi,
mata mereka kosong menatap lampu jalan.
Di desa jauh,
petani memandang langit mendung,
tanpa tahu apakah besok sawahnya berbuah
atau terjual ke tangan asing.
Nikmat ini,
yang kita rayakan di meja pesta,
yang kita banggakan di layar kaca,
bukan untuk menyombongkan diri.
Ia datang sebagai titipan,
datang sebagai amanah,
untuk diuji,
apakah kita ingat atau lupa.
Lalu apa arti syukur,
jika hanya tersimpan di bibir?
Syukur sejati adalah berbagi,
menjadi penghibur bagi yang takut,
menjadi tangan yang mengangkat yang jatuh,
menjadi naungan bagi yang terluka.
Kita sering mengira
kekayaanlah yang membuat kita tinggi.
Padahal yang membuat manusia mulia
adalah saat ia mau merendahkan hati,
menyadari semua ini bukan miliknya,
bahwa ia hanyalah tamu singkat
di rumah dunia yang fana.
Bangunlah dari mimpi panjang itu.
Lihatlah sekelilingmu,
ada yang menunggu secercah cahaya.
Jangan biarkan mereka tenggelam
hanya karena kita terlena
oleh kenyamanan sendiri.
Sebab nikmat terbesar
bukan ketika kita menguasai,
melainkan ketika kita rela memberi.
Bukan ketika kita disanjung,
melainkan ketika kita mengulurkan tangan.
Dan pada akhirnya,
di hadapan Sang Pemberi,
kita menunduk rendah.
Segala yang kita punya
bukanlah kepemilikan,
hanya pinjaman sementara,
hanya titipan yang akan kembali.
Kita hanyalah hamba,
yang diberi,
bukan pemilik sejati.
ⒷⒽⓌ
tanpa dentuman meriam,
tanpa bayang bom di atas kepala.
Kita menyalakan lampu,
air mengalir dari keran,
piring kita tak pernah benar-benar kosong.
Namun, sering kita abai.
Seakan semua datang karena kepintaran,
karena kerja keras,
karena hitungan strategi.
Padahal ada tangan tak terlihat,
yang menahan langit agar tak runtuh,
yang menjaga bumi agar tetap teduh.
Kita berlari mengejar angka,
menyusun rencana demi rencana,
menimbun harta dalam lemari besi,
seakan waktu milik kita,
seakan hidup tak akan pernah usai.
Sementara di sudut kota,
anak kecil mengais sisa nasi,
mata mereka kosong menatap lampu jalan.
Di desa jauh,
petani memandang langit mendung,
tanpa tahu apakah besok sawahnya berbuah
atau terjual ke tangan asing.
Nikmat ini,
yang kita rayakan di meja pesta,
yang kita banggakan di layar kaca,
bukan untuk menyombongkan diri.
Ia datang sebagai titipan,
datang sebagai amanah,
untuk diuji,
apakah kita ingat atau lupa.
Lalu apa arti syukur,
jika hanya tersimpan di bibir?
Syukur sejati adalah berbagi,
menjadi penghibur bagi yang takut,
menjadi tangan yang mengangkat yang jatuh,
menjadi naungan bagi yang terluka.
Kita sering mengira
kekayaanlah yang membuat kita tinggi.
Padahal yang membuat manusia mulia
adalah saat ia mau merendahkan hati,
menyadari semua ini bukan miliknya,
bahwa ia hanyalah tamu singkat
di rumah dunia yang fana.
Bangunlah dari mimpi panjang itu.
Lihatlah sekelilingmu,
ada yang menunggu secercah cahaya.
Jangan biarkan mereka tenggelam
hanya karena kita terlena
oleh kenyamanan sendiri.
Sebab nikmat terbesar
bukan ketika kita menguasai,
melainkan ketika kita rela memberi.
Bukan ketika kita disanjung,
melainkan ketika kita mengulurkan tangan.
Dan pada akhirnya,
di hadapan Sang Pemberi,
kita menunduk rendah.
Segala yang kita punya
bukanlah kepemilikan,
hanya pinjaman sementara,
hanya titipan yang akan kembali.
Kita hanyalah hamba,
yang diberi,
bukan pemilik sejati.
Comments
Post a Comment