“Reformasi Birokrasi yang Tersesat”
(Refleksi Setahun Pemerintahan Prabowo–Gibran)
dan negeri ini masih berbaris di bawah meja.
Di atas podium, kata-kata berkilau seperti janji suci,
tapi di ruang kerja, niat suci disobek oleh campur tangan dan titipan.
Sistem merit telah dibungkam,
diganti parade loyalitas dan titipan istana.
Kursi-kursi tinggi birokrasi kini penuh pejabat berseragam dan bayangan politik,
sementara yang berilmu menunduk di lorong sunyi,
menulis laporan yang takkan pernah dibaca siapa pun.
Kelembagaan kita—tua, lamban,
berderit seperti mesin kolonial yang enggan pensiun.
Setiap perintah butuh surat,
setiap surat butuh stempel,
dan setiap stempel butuh “sumbangan administrasi” agar bergerak.
Responsif hanyalah kata dalam kamus,
bukan dalam kerja.
SPBE? Hanya hiasan di slide presentasi.
Digital government? Tak lebih dari akun media sosial kementerian.
Tak ada konsep, tak ada rencana baku.
Rakyat masih antre, berkas masih tebal, meja masih wajib,
dan amplop masih jadi bahasa yang paling dimengerti negara.
Penyederhanaan organisasi jadi gurauan pahit.
Yang di bawah dipangkas sampai tulang,
yang di atas tumbuh seperti benalu kekuasaan.
Fungsional hanya label palsu di kartu nama,
sementara struktur tetap menjadi altar
tempat orang menyembah jabatan.
Birokrasi kehilangan arah, kehilangan jiwa,
menyusun laporan tanpa makna,
mengejar indikator yang tak menumbuhkan nurani.
Yang jujur dianggap pengganggu,
yang berpikir dianggap ancaman.
Namun, di sela retak dan buruknya sistem,
masih ada cahaya kecil yang menolak padam—
para pelayan negeri sejati
yang tetap bekerja tanpa sorot kamera,
yang percaya bahwa Tuhan masih mencatat
setiap niat yang tak disuap,
setiap langkah yang tak tunduk.
Mereka tahu:
reformasi bukan soal regulasi,
tapi soal keberanian membersihkan diri dari kerak kekuasaan.
Negeri ini bisa diselamatkan,
bukan oleh pidato, perintah atau proyek,
melainkan oleh hati yang tak mau menjual kejujuran.
Maka biarlah setahun ini jadi cermin,
bagi mereka yang terlena di singgasana,
bahwa waktu akan menguji,
dan sejarah tak menulis dengan tinta kekuasaan—
melainkan dengan nurani yang bertahan di tengah keruntuhan.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment