“Renungan Seorang Pencinta yang Belum Tulus”
“Renungan
Seorang Pencinta yang Belum Tulus”
Aku pernah berkata:
“Aku mencintai-Mu, ya Allah.”
Tapi hatiku bertanya diam-diam:
Benarkah?
Atau aku hanya mencintai ketenangan
Aku pernah menangis dalam sujud,
namun setelah itu,
aku masih gelisah jika dunia tak memihakku.
Apakah itu cinta?
Jika rinduku hanya hadir
saat tak ada lagi yang bisa kupinta dari manusia?
Aku malu.
Karena lebih sering mencari rahmat-Mu
sebagai jaminan rezeki,
bukan sebagai pelukan keabadian.
Aku takut.
Kalau cintaku ini hanya transaksi halus
yang tersembunyi di balik ibadah.
Tapi ya Allah…
Jika Engkau izinkan,
aku ingin belajar mencintai-Mu
seperti hujan mencintai bumi:
ia turun tanpa ditunggu-tunggu,
ia membasahi tanpa syarat balas.
Aku ingin belajar mencintai-Mu
tanpa pamrih.
Tanpa harus kaya,
tanpa harus sembuh,
tanpa harus selalu diberi yang kupinta.
Ajari aku cinta yang Engkau ridhoi:
yang tenang meski tertolak dunia,
yang kuat meski tak disanjung manusia.
Cinta yang tetap menoleh ke arah-Mu
meski semua arah terlihat lebih mudah.
Dan bila cintaku belum cukup murni,
biarlah aku tetap mencintai-Mu,
walau harus jatuh bangun,
walau kadang lupa,
walau kadang takut.
Karena aku tahu,
Engkau tidak mencari sempurna,
Engkau hanya menunggu
siapa yang tak berhenti kembali.
◇◇◇
Tapi kemudian aku bertanya,
pada hatiku sendiri yang masih gemetar:
“Kalau aku mencintai-Mu,
bolehkah aku tetap meminta?”
Bolehkah aku berkata:
“Ya Allah, beri aku rezeki yang cukup.”
“Ya Allah, sembuhkan tubuh ini.”
“Ya Allah, tenangkan pikiranku.”
Apakah itu berarti cintaku tak murni?
Apakah aku ini hanya hamba yang ingin diganjar,
bukan yang ingin mendekap-Mu,
tanpa syarat?
Hatiku bingung…
Karena di satu sisi,
aku ingin cukup tanpa meminta.
Tapi di sisi lain,
bukankah Engkau yang memintaku untuk berdoa?
Bukankah Musa pun mengadu,
Ayyub pun menangis,
dan Muhammad ﷺ pun berdoa dengan air mata?
Lalu hatiku menjawab pelan:
“Bukan soal meminta atau tidak.
Tapi apakah kau tetap mencintai-Nya
meski yang kau minta tak segera diberi.”
Jika rezeki tak bertambah,
apakah cintamu berkurang?
Jika sakit tak sembuh,
apakah ibadahmu berhenti?
Jika hidup tetap berliku,
apakah engkau masih berkata:
“Rabbī hasbunī – Cukuplah Tuhanku bagiku”?
Maka kini aku belajar…
meminta tanpa menggugat,
mengadu tanpa menuntut,
berharap tanpa menggenggam hasilnya.
Karena mungkin,
meminta dengan hati yang ikhlas
bukan tanda cinta yang transaksional,
tapi tanda bahwa aku masih percaya.
Bahwa kepada-Mu lah
aku pulang,
selalu,
dan hanya.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment