“Ridha, Barokah, dan Rezeki yang Dipertanyakan”
“Ridha,
Barokah, dan Rezeki yang Dipertanyakan”
Wahai jiwa yang berjalan menuju ridha,
mari duduk sejenak dan bertanya:
Jika yang kau cari adalah wajah-Nya,
mengapa hatimu masih gelisah soal limpahan dunia?
Kau berkata: “Aku ingin barokah dan ridho-Nya,”
namun engkau resah saat rezekimu tak melimpah.
Padahal para kekasih Tuhan dulu
menyebut lapar itu anugerah,
dan cukup itu kemewahan yang disyukuri dalam sujud panjang.
Apa kau kira ridho Allah
harus selalu datang bersama tumpukan harta?
Apa kau kira barokah itu hanya terlihat
pada saldo yang bertambah dan rumah yang membesar?
Para sufi menjawab:
“Bukan banyaknya, tapi sucinya.
Bukan limpahnya, tapi tenangnya.
Bukan kemewahan, tapi keberadaan-Nya dalam tiap yang sederhana.”
Jika rezeki melimpah membuatmu menjauh,
maka itu bukan nikmat—itu ujian yang kau minta sendiri.
Jika kesederhanaan membuatmu lebih khusyuk,
maka itu berkah yang tak tercatat dalam grafik dunia.
Ridho Allah bukan transaksi.
Ia bukan datang karena kau memberi lebih,
atau karena kau puasa setiap Senin-Kamis.
Ia datang karena hatimu bersih dari pamrih,
karena kau mencintai tanpa kalkulasi,
dan berharap hanya kepada-Nya—bukan pada hasil-Nya.
Maka para sufi berkata:
“Mintalah rezeki secukupnya untuk hidup,
dan limpahan cinta untuk mati dalam damai.”
Boleh kau berharap rezeki yang lapang,
tapi pastikan lapang pula jiwamu,
agar ketika diberi banyak,
kau tetap rendah.
Dan ketika diberi sedikit,
kau tetap tenang.
Karena yang paling kaya
bukan yang paling banyak diberi,
tapi yang paling sedikit mengeluh,
dan paling tulus mencinta,
meski tangan masih kosong
dan perut belum terisi.
ⒷⒽⓌ
Wahai jiwa yang berjalan menuju ridha,
mari duduk sejenak dan bertanya:
Jika yang kau cari adalah wajah-Nya,
mengapa hatimu masih gelisah soal limpahan dunia?
Kau berkata: “Aku ingin barokah dan ridho-Nya,”
Padahal para kekasih Tuhan dulu
menyebut lapar itu anugerah,
dan cukup itu kemewahan yang disyukuri dalam sujud panjang.
Apa kau kira ridho Allah
harus selalu datang bersama tumpukan harta?
Apa kau kira barokah itu hanya terlihat
pada saldo yang bertambah dan rumah yang membesar?
Para sufi menjawab:
“Bukan banyaknya, tapi sucinya.
Bukan limpahnya, tapi tenangnya.
Bukan kemewahan, tapi keberadaan-Nya dalam tiap yang sederhana.”
Jika rezeki melimpah membuatmu menjauh,
maka itu bukan nikmat—itu ujian yang kau minta sendiri.
Jika kesederhanaan membuatmu lebih khusyuk,
maka itu berkah yang tak tercatat dalam grafik dunia.
Ridho Allah bukan transaksi.
Ia bukan datang karena kau memberi lebih,
atau karena kau puasa setiap Senin-Kamis.
Ia datang karena hatimu bersih dari pamrih,
karena kau mencintai tanpa kalkulasi,
dan berharap hanya kepada-Nya—bukan pada hasil-Nya.
Maka para sufi berkata:
“Mintalah rezeki secukupnya untuk hidup,
dan limpahan cinta untuk mati dalam damai.”
Boleh kau berharap rezeki yang lapang,
tapi pastikan lapang pula jiwamu,
agar ketika diberi banyak,
kau tetap rendah.
Dan ketika diberi sedikit,
kau tetap tenang.
Karena yang paling kaya
bukan yang paling banyak diberi,
tapi yang paling sedikit mengeluh,
dan paling tulus mencinta,
meski tangan masih kosong
dan perut belum terisi.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment