”Saat Usia Bertambah”
”Saat
Usia Bertambah”
Saat usia bertambah,
yang dicari bukan lagi sorak dan gemuruh,
melainkan hening yang meneduhkan,
dan wajah-wajah tulus yang menyapa tanpa pamrih.
Dulu langkah penuh ambisi,
kini lebih banyak ingin mengerti.
Dulu emosi karena dunia tak tunduk,
kini diam karena hati tahu:
tak semua harus dimenangkan.
Kini, suka duduk tenang di pagi hari,
menyeduh teh hangat sambil menatap cahaya matahari
yang menari di ujung daun.
Melihat embun di batang padi,
mendengar gemericik sungai kecil
yang mengalir seperti zikir—
mengajarkan: hidup tak perlu tergesa.
Sawah yang luas, angin yang lembut,
adalah nasihat yang tidak pernah memaksa.
Dan burung-burung kecil
yang lewat membawa nyanyian
jauh lebih menenangkan
daripada ribuan kabar yang riuh.
Saat usia bertambah,
doa menjadi lebih lirih,
namun maknanya lebih dalam.
Air mata tak lagi karena luka,
tapi karena rindu pada Yang Maha Mendamaikan.
Semakin bertambah usia, orang tak menyukai gaduh,
bukan karena lemah,
tetapi karena mereka tahu:
ketenangan adalah anugerah paling mewah
yang tak bisa dibeli siapa pun.
Kini yang dicari:
rumah yang sejuk meski sederhana,
teman yang jujur meski sedikit,
dan hati yang lapang
meski tak dimengerti semua orang.
Saat usia bertambah,
kita belajar bahwa memaafkan
lebih ringan daripada membalas,
dan mengalah
bukan berarti kalah—
tapi puncak dari penguasaan diri.
Biarlah dunia berlomba,
aku cukup berjalan pelan,
menyapa pagi dengan syukur,
dan malam dengan istighfar yang tenang.
Karena sejatinya,
jiwa yang damai adalah pencapaian,
bukan pelarian.
Dan hati yang tenang—
adalah karunia yang hanya dimiliki
oleh mereka yang telah berdamai dengan diri.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment