”Salam untuk yang Tak Letih Menyala”

 ”Salam untuk yang Tak Letih Menyala”
 
Di negeri ini,
kejujuran sering dianggap gangguan.
Ketulusan disangsikan,
niat baik disusupi kepentingan.
 
Pemerintah terlalu jauh untuk disentuh,
birokrasi terlalu kusut untuk diluruskan.
Masyarakat?
Terlalu lelah, terlalu sibuk sendiri,
atau terlalu nyaman dalam kebiasaan yang salah.
 
Kita bicara, tapi tak didengar.
Kita bergerak, tapi dihalangi.
Kita berkorban, lalu ditertawakan.
Kadang rasanya seperti menabur air di padang pasir.
Terlalu sedikit.
Terlalu tak berarti.
 
Lalu datang tanya yang getir:
Masih perlukah berjuang?
Untuk apa, jika akhirnya dicemoohkan?
Untuk siapa, jika yang dibela pun tak peduli?
 
Namun justru di situlah makna perjuangan.
Ia bukan soal sambutan,
tapi soal kesetiaan pada hati nurani.
Bukan soal banyaknya pengikut,
tapi tentang tetap berjalan walau sendiri.
 
Karena diam itu nyaman,
tapi perubahan tak lahir dari diam.
Dan menyerah itu mudah,
tapi dunia tak pernah berubah oleh mereka yang mudah.
 
Jika api kecil tak kita jaga,
maka gelap akan jadi kebiasaan.
Jika suara hati terus kita tunda,
maka dusta akan jadi kebenaran.
 
Jadi, tetaplah menyala.
Tetaplah bicara, meski dicibir.
Tetaplah melangkah, meski tertatih.
Bukan karena kau yakin menang,
tapi karena kau tahu:
diam berarti kalah.
 
Salam untukmu—
yang masih peduli,
masih gelisah,
masih menolak tunduk pada kebusukan yang dianggap biasa.
Kau mungkin sendiri,
tapi kau bukan sendirian.
Dan harapan…
masih hidup dalam tiap langkahmu.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts