”Sekolah Masa Depan”
”Sekolah Masa Depan”
Anak-anak berlari di halaman taman bermain,
mereka tertawa,
menyusun pasir seolah membangun kota.
Siswa-siswa menulis di papan lusuh,
huruf-huruf jatuh
seperti benih yang tak sempat disiram.
Mahasiswa berbaris di panggung wisuda,
topi mereka melayang ke udara,
tapi ke mana mimpi itu hinggap?
Bangsa ini bicara tentang masa depan,
namun jalan sekolahnya berliku,
terhimpit kepentingan sesaat,
kebijakan yang lahir bukan dari nurani,
melainkan dari nafsu meninggalkan jejak pribadi.
Pendidikan jadi panggung megah
untuk memahat nama di prasasti,
bukan ladang luas untuk menumbuhkan manusia.
Tapi wahai rakyat,
masa depan bukan hadiah menteri,
bukan pula belas kasih pimpinan birokrasi.
Ia tumbuh dari kesadaran
bahwa orang tua, guru sejati,
dan komunitas adalah akar yang tak bisa diputus.
Merdeka belajar sejati
bukan slogan di kertas undang-undang,
tetapi keberanian masyarakat
mendirikan ruang-ruang belajar mandiri:
di balai desa, di masjid, di rumah sederhana,
di kebun, di pasar, di bengkel kerja.
Bayangkan sebuah bangsa
di mana anak-anak belajar menghitung
bukan hanya angka di buku,
tapi juga harga keringat di sawah.
Mereka membaca bukan hanya puisi,
tapi juga langit malam yang penuh bintang.
Mahasiswa tak hanya berpidato di podium,
tapi menyalakan listrik dari sungai kecil,
menanam pohon untuk seratus tahun lagi.
Namun sementara rakyat mengajarkan anaknya dengan lilin,
para pejabat sibuk berdebat tentang lampu panggung.
Dana pendidikan disamarkan
di balik laporan dan seminar mewah,
sementara kursi sekolah reyot
dan guru honorer dihitung murah.
Apa gunanya kurikulum berganti tiap musim,
jika yang diajarkan hanyalah cara
menjadi penonton dalam negeri sendiri?
Negeri ini gemar menukar masa depan
dengan potret singkat di media,
merayakan program seperti kembang api—
indah sekejap, padam seketika.
Tak ada fondasi,
hanya obsesi mencatat nama di prasasti.
Negara lupa bahwa membangun manusia
bukan lomba sprint demi tepuk tangan,
melainkan maraton panjang
yang hanya bisa dimenangkan
oleh kesabaran dan kejujuran.
Jika negara terjebak pada miopia kekuasaan,
maka masyarakat bisa mencipta teleskopnya sendiri.
Jika kebijakan hanya mengejar obsesi pribadi,
maka kita yang harus menanam warisan kolektif.
Bangun perpustakaan di serambi rumah,
bangun laboratorium di halaman sekolah kecil,
bangun sekolah rakyat
di setiap hati yang tak berhenti ingin tahu.
Karena bangsa besar
bukan ditentukan siapa yang duduk di kursi kuasa,
tetapi siapa yang berani menyalakan lilin
ketika gelap mencoba menelan generasi.
Dan pada akhirnya,
ilmu yang tumbuh dari kasih dan keberanian
akan menjadi cahaya,
menuntun kita pulang
kepada Tuhan yang Maha Guru.
ⒷⒽⓌ
mereka tertawa,
menyusun pasir seolah membangun kota.
Siswa-siswa menulis di papan lusuh,
huruf-huruf jatuh
seperti benih yang tak sempat disiram.
Mahasiswa berbaris di panggung wisuda,
topi mereka melayang ke udara,
tapi ke mana mimpi itu hinggap?
Bangsa ini bicara tentang masa depan,
namun jalan sekolahnya berliku,
terhimpit kepentingan sesaat,
kebijakan yang lahir bukan dari nurani,
melainkan dari nafsu meninggalkan jejak pribadi.
Pendidikan jadi panggung megah
untuk memahat nama di prasasti,
bukan ladang luas untuk menumbuhkan manusia.
Tapi wahai rakyat,
masa depan bukan hadiah menteri,
bukan pula belas kasih pimpinan birokrasi.
Ia tumbuh dari kesadaran
bahwa orang tua, guru sejati,
dan komunitas adalah akar yang tak bisa diputus.
Merdeka belajar sejati
bukan slogan di kertas undang-undang,
tetapi keberanian masyarakat
mendirikan ruang-ruang belajar mandiri:
di balai desa, di masjid, di rumah sederhana,
di kebun, di pasar, di bengkel kerja.
Bayangkan sebuah bangsa
di mana anak-anak belajar menghitung
bukan hanya angka di buku,
tapi juga harga keringat di sawah.
Mereka membaca bukan hanya puisi,
tapi juga langit malam yang penuh bintang.
Mahasiswa tak hanya berpidato di podium,
tapi menyalakan listrik dari sungai kecil,
menanam pohon untuk seratus tahun lagi.
Namun sementara rakyat mengajarkan anaknya dengan lilin,
para pejabat sibuk berdebat tentang lampu panggung.
Dana pendidikan disamarkan
di balik laporan dan seminar mewah,
sementara kursi sekolah reyot
dan guru honorer dihitung murah.
Apa gunanya kurikulum berganti tiap musim,
jika yang diajarkan hanyalah cara
menjadi penonton dalam negeri sendiri?
Negeri ini gemar menukar masa depan
dengan potret singkat di media,
merayakan program seperti kembang api—
indah sekejap, padam seketika.
Tak ada fondasi,
hanya obsesi mencatat nama di prasasti.
Negara lupa bahwa membangun manusia
bukan lomba sprint demi tepuk tangan,
melainkan maraton panjang
yang hanya bisa dimenangkan
oleh kesabaran dan kejujuran.
Jika negara terjebak pada miopia kekuasaan,
maka masyarakat bisa mencipta teleskopnya sendiri.
Jika kebijakan hanya mengejar obsesi pribadi,
maka kita yang harus menanam warisan kolektif.
Bangun perpustakaan di serambi rumah,
bangun laboratorium di halaman sekolah kecil,
bangun sekolah rakyat
di setiap hati yang tak berhenti ingin tahu.
Karena bangsa besar
bukan ditentukan siapa yang duduk di kursi kuasa,
tetapi siapa yang berani menyalakan lilin
ketika gelap mencoba menelan generasi.
Dan pada akhirnya,
ilmu yang tumbuh dari kasih dan keberanian
akan menjadi cahaya,
menuntun kita pulang
kepada Tuhan yang Maha Guru.
Comments
Post a Comment