”Senja yang Ingin Damai”

 ”Senja yang Ingin Damai”

 

Di ujung senja usia,
kami hanya ingin duduk di beranda,
menyaksikan cucu tertawa,
mendengar angin menyapa pohon tua.
 
Namun di jalan-jalan kota,
riuh suara tak lagi harmoni,
kebijakan lahir tanpa jiwa,
rakyat menanggung, pemimpin lupa diri.
 
Mengapa kebijakan lahir tergesa,
seperti hujan yang jatuh tanpa arah,
membasahi tanah tapi tak menyuburkan,
menyisakan genangan dan keluhan.
 
Mengapa keputusan diambil terburu,
tanpa menimbang jerih rakyat yang rapuh,
seolah negeri ini sekadar buku catatan,
bisa dicoret, bisa dihapus, tanpa perasaan.
 
Kami mendengar janji tentang kesejahteraan,
tapi yang tampak hanya parade kemewahan,
kilau flexing dan pesta hedonisme,
sementara dapur rakyat penuh asap tipis.
 
Wahai pengemban kuasa,
sadarlah—
kebijakan bukanlah permainan kata,
melainkan nasib berjuta keluarga,
air mata yang tak pernah masuk berita,
dan harapan yang sering patah di jalan raya.
 
Lihatlah jalanan,
di sana suara protes bergemuruh,
karena luka yang tak pernah diobati,
karena janji yang tak pernah ditepati,
dan saat amarah berubah jadi anarki,
yang susah tetap rakyat kecil,
yang lapar tetap kaum jelata.
 
Kami tak menolak pembangunan,
tapi kami ingin ia berempati pada yang miskin papa,
bukan sekadar menghias gedung kaca.
Kami tak benci kekuasaan,
tapi kami ingin ia hadir sebagai pengayom,
bukan sebagai beban yang menekan.
 
Di masa tua,
kami hanya ingin duduk tenang di beranda,
menyaksikan cucu bermain di halaman,
menikmati senja tanpa resah di dada,
mendengar berita baik,
bukan kabar gaduh yang melelahkan.
 
Wahai pemimpin,
dengarlah—
rakyat bukan sekadar angka statistik,
bukan grafis yang bisa dipoles,
bukan suara yang bisa dibungkam.
Rakyat adalah denyut nadi negeri,
jika ia tercekik,
seluruh tubuh akan mati.
 
Maka berhentilah menyusahkan,
berhentilah mengulang kesalahan.
Bangunlah negeri dengan kebijakan bijak,
agar kami dapat menikmati sisa usia,
dalam damai, dalam cinta,
bermain dengan anak cucu,
di tanah air yang tenteram,
di bumi pertiwi yang adil,
di pangkuan negeri yang penuh welas asih.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts