“Separuh Cahaya di Timur”
“Separuh Cahaya di Timur”
Separuh wajahmu, wahai bulan,
condong perlahan ke timur,
seakan hendak menumpahkan rahasia
tentang terang yang separuh,
dan gelap yang separuh.
Engkau seperti cermin langit
yang tak pernah berbohong,
menyimpan luka malam,
namun tetap memantulkan cahaya harapan.
Di langit sunyi engkau bercerita,
bahwa jiwa pun selalu bertumbuh,
tak pernah utuh sekaligus,
melainkan berlapis, berproses,
seperti fajar yang sabar menyingkap malam.
Para penafsir bintang membaca isyaratmu,
para penjaga bumi menghitung getar laut di bawahmu,
namun hatiku hanya mendengar bisikmu:
“Jangan takut menjadi separuh,
sebab ke timur engkau condong,
ke arah matahari engkau berjalan,
ke arah cahaya engkau pulang.”
Maka kuikuti jejakmu, wahai bulan,
meski jalanku separuh cahaya, separuh gulita,
karena kutahu: setiap condong ke timur
adalah janji tentang terbitnya matahari,
janji tentang kebangkitan,
janji bahwa jiwa tak akan dibiarkan sendirian
dalam gelap.
Dan jika malam masih panjang,
aku akan bersetia menunggu,
seperti laut menanti pasang,
seperti doa menanti jawaban,
sebab separuh sinarmu sudah cukup
menuntun langkahku yang ragu.
Hingga pada saatnya engkau bulat penuh,
kupahami arti perjalanan ini:
bahwa terang tak datang sekaligus,
tetapi perlahan, lembut, dan setia—
seperti kasih semesta
yang selalu menjemput jiwa-jiwa yang pulang.
ⒷⒽⓌ
condong perlahan ke timur,
seakan hendak menumpahkan rahasia
tentang terang yang separuh,
dan gelap yang separuh.
Engkau seperti cermin langit
yang tak pernah berbohong,
menyimpan luka malam,
namun tetap memantulkan cahaya harapan.
Di langit sunyi engkau bercerita,
bahwa jiwa pun selalu bertumbuh,
tak pernah utuh sekaligus,
melainkan berlapis, berproses,
seperti fajar yang sabar menyingkap malam.
Para penafsir bintang membaca isyaratmu,
para penjaga bumi menghitung getar laut di bawahmu,
namun hatiku hanya mendengar bisikmu:
“Jangan takut menjadi separuh,
sebab ke timur engkau condong,
ke arah matahari engkau berjalan,
ke arah cahaya engkau pulang.”
Maka kuikuti jejakmu, wahai bulan,
meski jalanku separuh cahaya, separuh gulita,
karena kutahu: setiap condong ke timur
adalah janji tentang terbitnya matahari,
janji tentang kebangkitan,
janji bahwa jiwa tak akan dibiarkan sendirian
dalam gelap.
Dan jika malam masih panjang,
aku akan bersetia menunggu,
seperti laut menanti pasang,
seperti doa menanti jawaban,
sebab separuh sinarmu sudah cukup
menuntun langkahku yang ragu.
Hingga pada saatnya engkau bulat penuh,
kupahami arti perjalanan ini:
bahwa terang tak datang sekaligus,
tetapi perlahan, lembut, dan setia—
seperti kasih semesta
yang selalu menjemput jiwa-jiwa yang pulang.
Comments
Post a Comment