“Sepiring Janji, Segenggam Marwah”
“Sepiring Janji, Segenggam Marwah”
Ia lahir dari niat yang suci —
memberi makan, bukan sekadar mengenyangkan,
menumbuhkan generasi, bukan sekadar mengisi perut.
Ia bernama MBG — Makanan Bergizi Gratis,
sebuah janji negara yang menyentuh jantung kemanusiaan:
bahwa tak boleh ada anak yang belajar sambil lapar,
tak boleh ada cita-cita yang tumbuh dalam tubuh yang lemah.
Namun lihatlah kenyataan yang getir:
di balik piring-piring yang dibagikan,
ada laporan anak-anak jatuh sakit,
ada jejak tangan-tangan rakus yang merayap tanpa malu.
Dan lebih getir lagi —
tak ada ruang bagi persaingan sehat,
tak ada tender yang membuka kesempatan,
hanya penunjukan langsung yang berjalan dalam sunyi,
menyisakan aroma kelaliman di balik dapur kebijakan.
Apakah ini wajah dari kepedulian?
Ataukah sekadar proyek yang dibungkus kata “gratis”?
Apakah ini tentang anak bangsa,
atau tentang siapa yang duduk paling dekat dengan kekuasaan?
Kita tidak menolak MBG —
karena di dalamnya ada harapan, ada masa depan.
Tapi kita menolak kebodohan yang mengiringinya,
menolak kerakusan yang mencemari niat baiknya.
Sebab makanan bukan hanya soal gizi,
tapi juga soal harga diri negara.
Dan gizi sejati tak lahir dari perut yang kenyang,
melainkan dari sistem yang bersih, adil, dan jujur.
Maka, benahilah sebelum terlambat —
sebelum piring-piring itu berubah menjadi simbol kebohongan,
sebelum marwah negara hancur karena nasi yang basi,
sebelum masa depan anak-anak kita
tumbuh di atas fondasi yang tercemar.
ⒷⒽⓌ
memberi makan, bukan sekadar mengenyangkan,
menumbuhkan generasi, bukan sekadar mengisi perut.
Ia bernama MBG — Makanan Bergizi Gratis,
sebuah janji negara yang menyentuh jantung kemanusiaan:
bahwa tak boleh ada anak yang belajar sambil lapar,
tak boleh ada cita-cita yang tumbuh dalam tubuh yang lemah.
Namun lihatlah kenyataan yang getir:
di balik piring-piring yang dibagikan,
ada laporan anak-anak jatuh sakit,
ada jejak tangan-tangan rakus yang merayap tanpa malu.
Dan lebih getir lagi —
tak ada ruang bagi persaingan sehat,
tak ada tender yang membuka kesempatan,
hanya penunjukan langsung yang berjalan dalam sunyi,
menyisakan aroma kelaliman di balik dapur kebijakan.
Apakah ini wajah dari kepedulian?
Ataukah sekadar proyek yang dibungkus kata “gratis”?
Apakah ini tentang anak bangsa,
atau tentang siapa yang duduk paling dekat dengan kekuasaan?
Kita tidak menolak MBG —
karena di dalamnya ada harapan, ada masa depan.
Tapi kita menolak kebodohan yang mengiringinya,
menolak kerakusan yang mencemari niat baiknya.
Sebab makanan bukan hanya soal gizi,
tapi juga soal harga diri negara.
Dan gizi sejati tak lahir dari perut yang kenyang,
melainkan dari sistem yang bersih, adil, dan jujur.
Maka, benahilah sebelum terlambat —
sebelum piring-piring itu berubah menjadi simbol kebohongan,
sebelum marwah negara hancur karena nasi yang basi,
sebelum masa depan anak-anak kita
tumbuh di atas fondasi yang tercemar.
Comments
Post a Comment