“Seragam di Kursi Birokrasi”

 “Seragam di Kursi Birokrasi”

 

Di ruang-ruang negara, kursi birokrasi berderit,
diduduki seragam yang mestinya berjaga di jalan.
Mereka datang dengan tanda pangkat di pundak,
bukan dengan buku merit dan pena abdi sipil.
 
Apakah bangsa ini lupa pada janji reformasi?
Bahwa seragam coklat menjaga malam dan siang,
sementara meja birokrasi milik abdi netral,
yang kariernya ditempa bukan oleh senjata,
tapi oleh ilmu, dedikasi, dan aturan meritokrasi.
 
Ketika 4.531 kursi terserap oleh langkah komando,
birokrasi sipil terhimpit,
jenjang ASN terhenti,
dan profesionalisme tergadai.
 
Di tengah kerisauan itu, rakyat menunggu jawaban.
Mereka tidak butuh birokrasi berwajah sangar,
mereka ingin layanan yang cepat, bersih, sederhana,
birokrasi yang hadir dengan empati,
yang memandang warga bukan sebagai objek kekuasaan,
melainkan sebagai tuan yang harus dilayani.
 
Reformasi birokrasi adalah janji,
janji yang lahir dari semangat demokrasi,
untuk menegakkan sistem merit,
untuk memberi ruang tumbuh bagi ASN,
dan untuk menegaskan bahwa negara berdiri
bukan untuk seragam, melainkan untuk rakyat.
 
Namun jika kooptasi terus dibiarkan,
akan lahirlah negara yang pincang:
Polri kehilangan fokus pada tugas mulia,
ASN kehilangan arah dan masa depan,
birokrasi kehilangan wajah humanisnya,
dan rakyat kehilangan hak atas pelayanan publik.
 
Dan pada akhirnya,
negara tergelincir ke jurang yang pernah ditinggalkan:
dwifungsi berulang dalam rupa baru,
demokrasi terkikis dalam diam,
dan republik perlahan berubah
menjadi arena perebutan kuasa,
bukan rumah besar yang melindungi rakyatnya.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts