”Setelah Lapangan Upacara Dibersihkan”
”Setelah Lapangan Upacara Dibersihkan”
Setelah hiruk pikuk lomba usai,
setelah gapura berwarna,
setelah pakaian adat kembali ke lemari,
dan bendera dilipat rapi di pojok rumah,
apa yang tersisa selain sisa kue dan tawa?
Merdeka bukan cat yang menempel di dinding,
bukan bendera yang berkibar sebulan lalu hilang,
bukan pengeras suara yang berteriak sekali setahun.
Merdeka adalah nasi di meja anak yatim,
hukum yang berdiri tegak meski diguncang uang,
udara yang bersih tanpa rakusnya asap pabrik,
dan pemimpin yang jujur meski sendirian.
Lalu apa artinya perayaan,
jika sekolah masih bocor di musim hujan,
jika sawah dijual demi perut sesaat,
jika rakyat kecil berteriak tapi tak terdengar?
Merah putih sejatinya bukan kain di tiang,
tapi keberanian menjaga nurani,
keteguhan menolak korupsi,
cinta yang diwujudkan dalam kerja,
dan doa yang mengangkat bangsa ini
ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Merdeka bukan pesta sehari,
tapi perjalanan panjang yang setiap detik ditulis
oleh keringat, oleh keberanian, oleh kesetiaan.
Setelah bendera diturunkan,
kitalah yang harus mengibarkannya lagi—
di hati, di pikiran, di perbuatan.
Merdeka adalah amanah dari langit,
yang menuntut kita menjaga bumi,
membangun manusia dengan kasih dan nurani,
serta berjalan bersama generasi mendatang
dengan dada tegak dan jiwa yang bersih.
Inilah warisan, inilah tanggung jawab,
dan inilah semangat abadi
yang tak boleh padam oleh waktu.
Ya Allah,
jadikan kemerdekaan ini amanah, bukan sekadar slogan;
ampuni kelalaian kami menjaga titipan-Mu,
kuatkan pemimpin dengan kejujuran,
teguhkan rakyat dengan kesabaran,
dan biarkan merah putih terus berkibar
di bawah ridha dan cahaya-Mu yang abadi.
ⒷⒽⓌ
setelah gapura berwarna,
setelah pakaian adat kembali ke lemari,
dan bendera dilipat rapi di pojok rumah,
apa yang tersisa selain sisa kue dan tawa?
Merdeka bukan cat yang menempel di dinding,
bukan bendera yang berkibar sebulan lalu hilang,
bukan pengeras suara yang berteriak sekali setahun.
Merdeka adalah nasi di meja anak yatim,
hukum yang berdiri tegak meski diguncang uang,
udara yang bersih tanpa rakusnya asap pabrik,
dan pemimpin yang jujur meski sendirian.
Lalu apa artinya perayaan,
jika sekolah masih bocor di musim hujan,
jika sawah dijual demi perut sesaat,
jika rakyat kecil berteriak tapi tak terdengar?
Merah putih sejatinya bukan kain di tiang,
tapi keberanian menjaga nurani,
keteguhan menolak korupsi,
cinta yang diwujudkan dalam kerja,
dan doa yang mengangkat bangsa ini
ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Merdeka bukan pesta sehari,
tapi perjalanan panjang yang setiap detik ditulis
oleh keringat, oleh keberanian, oleh kesetiaan.
Setelah bendera diturunkan,
kitalah yang harus mengibarkannya lagi—
di hati, di pikiran, di perbuatan.
Merdeka adalah amanah dari langit,
yang menuntut kita menjaga bumi,
membangun manusia dengan kasih dan nurani,
serta berjalan bersama generasi mendatang
dengan dada tegak dan jiwa yang bersih.
Inilah warisan, inilah tanggung jawab,
dan inilah semangat abadi
yang tak boleh padam oleh waktu.
Ya Allah,
jadikan kemerdekaan ini amanah, bukan sekadar slogan;
ampuni kelalaian kami menjaga titipan-Mu,
kuatkan pemimpin dengan kejujuran,
teguhkan rakyat dengan kesabaran,
dan biarkan merah putih terus berkibar
di bawah ridha dan cahaya-Mu yang abadi.
Comments
Post a Comment