“Silaturahim Para Sahabat”
“Silaturahim Para Sahabat”
Kami berkumpul lagi,
dengan senyum yang tak dibuat-buat,
dengan tangan yang tulus menyambut,
dan hati yang hangat menyatu dalam diam.
Tak banyak yang perlu dijelaskan,
karena dalam tatap yang jernih
tersimpan ribuan niat baik
dan kerinduan akan makna yang sejati.
Silaturahim ini bukan sekadar temu,
ia adalah perpanjangan dari doa,
jalan untuk merawat kasih
yang tak lekang oleh waktu.
Kami duduk berkerumun,
bukan hanya untuk tertawa,
tetapi untuk saling menguatkan
agar langkah kami tetap lurus
saat dunia mulai menggoda arah.
Kami saling bertanya dengan lembut:
Bagaimana agar iman tetap terjaga?
Bagaimana agar semangat tetap menyala?
Dan bagaiamana agar hati tetap peka
terhadap sesama?
Lalu kami mulai bicara,
bukan untuk mengeluh,
tetapi untuk memahami.
Tentang tetangga yang sunyi,
tentang anak muda yang resah,
tentang bumi yang semakin sesak
oleh ambisi yang tak tahu batas.
Namun diskusi kami bukan dalam murka,
tapi dalam cinta.
Karena kami percaya,
cinta yang sejati
bukan hanya memeluk,
tetapi juga menegur —
dengan sabar,
dengan kasih.
Silaturahim ini menjadi ruang belajar,
belajar menjadi manusia
yang tak hanya beriman di lisan,
tapi juga dalam sikap.
Yang tak hanya baik untuk dirinya,
tapi juga bagi yang di sekitarnya.
Kami saling menyemangati
agar rezeki tak hanya ditimbun,
tetapi dibagi.
Agar waktu tak hanya dihabiskan,
tetapi dimaknai.
Agar hidup tak hanya dijalani,
tetapi diarahkan.
Kami tahu,
persaudaraan bukan sekadar kenangan.
Ia harus dijaga dengan perhatian,
dengan pertemuan,
dengan kesediaan mendengarkan.
Dan silaturahim inilah rumahnya.
Tempat kami kembali
bukan untuk melarikan diri dari dunia,
tetapi untuk kembali menghadapinya
dengan hati yang lebih tenang,
lebih terang,
dan lebih bertanggung jawab.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment