“Sisa Setahun Itu”

 “Sisa Setahun Itu”

 
Mengapa harus tergesa menapak jalan yang mulai lengang,
sedang hati telah rindu pada teduhnya senja,
pada tawa cucu di pangkuan,
pada waktu yang tak lagi dikejar oleh lonceng absen dan rapat tak berujung.
 
Mengapa harus bersusah menanggung sisa setahun,
jika jiwa telah ingin bertani tenang di ladang damai,
membina usaha kecil yang tumbuh dari doa,
membimbing anak-anak agar langkahnya lebih ringan daripada langkah kita dahulu.
 
Ah, negeri ini… tetap saja negeri ini.
Lautnya biru — tetap biru,
langitnya terik — tetap terik,
dan mungkin tanpa kita pun roda sejarah akan tetap berputar.
Apakah artinya pengabdian,
jika hasilnya hanya debu di rak laporan tahunan?
 
Dan meski hati berkata demikian…
Bukankah setiap hela nafas masih ditulis oleh kehendak-Nya?
Bukankah setiap detik sisa adalah ladang amal yang tak boleh dibiarkan kering?
Mungkin bukan bangsa yang menanti karya kita,
melainkan Tuhan yang menilai kesungguhan hati kita menyempurnakan amanah-Nya.
 
Sisa setahun bukan sekadar angka —
ia adalah kesempatan menutup kisah dengan paripurna,
mengajar generasi dengan keteladanan terakhir,
bahwa pengabdian bukan tentang hasil,
melainkan tentang kesetiaan hingga akhir langkah.
 
Maka selesaikanlah, dengan senyum yang tak lagi terbebani ambisi,
dengan jiwa yang telah bebas dari pujian dan kecewa.
Nikmatilah setiap hari sebagai dzikir:
bahwa hidup ini fana,
dan tugas kita hanyalah menuntaskan yang telah dipercayakan.
 
Setelah itu, pergilah dengan ringan,
menyemai cinta di rumah,
membesarkan usaha dengan sabar,
mendampingi cucu dengan penuh tawa.
 
Sebab bahagia sejati bukanlah meninggalkan tugas,
tetapi menunaikannya hingga akhir —
lalu berpulang ke pelukan hidup yang damai,
seperti matahari yang terbenam dengan anggun,
setelah memberi terang sepanjang hari.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts