“Suara dari Negeri yang Gemar Berkhayal”
“Suara dari Negeri yang Gemar Berkhayal”
(sebuah puisi kebijakan dan nurani)
(sebuah puisi kebijakan dan nurani)
Di lembar dokumen anggaran,
ada angka yang tak lagi mewakili lapar.
Grafik naik, tapi isi perut turun.
Proyeksi tumbuh, tapi kepercayaan publik menyusut.
Anggaran daerah dipotong—
seperti akar yang dipaksa menopang pohon impian pusat.
Dana untuk air bersih dan kesehatan balita
beralih jadi baliho kebanggaan dan seremonial merah putih.
Nama-nama program unggulan pemerintah bersinar di layar kaca dan media.
Indah seperti mantra,
tapi kosong dari metodologi dan baseline.
Mereka bicara pemberdayaan,
namun lupa menghitung daya yang tersisa di tubuh rakyat.
Inilah negeri yang rajin bermimpi,
tapi malas menghitung kemungkinan.
Setiap kebijakan lahir seperti hujan janji—
turun deras di atas tanah yang tak disiapkan.
Maka yang tumbuh bukan hasil,
melainkan lumpur frustrasi dan keletihan birokrasi.
ASN menunduk di depan _spreadsheet_ kosong,
menyesuaikan laporan dengan kenyataan yang tak sesuai.
Akademisi menulis di pinggir,
tapi jarang dibaca,
karena suara nalar dianggap gangguan bagi narasi besar.
Sementara itu, rakyat di hulu sungai
masih menimba air keruh,
anak-anak di pedalaman belajar tanpa guru tetap,
dan petani menatap langit yang lebih jujur daripada kebijakan.
Namun—
di balik semua laporan yang diglamorkan,
masih ada segelintir jiwa yang berbisik pelan:
“Kebenaran tidak lahir dari niat baik,
tapi dari keberanian melihat bukti yang pahit.”
Mereka adalah sisa nurani bangsa,
yang percaya bahwa kebijakan bukan puisi kosong,
melainkan doa dengan metodologi.
Jika suatu hari negeri ini mau berhenti sejenak,
membaca datanya sendiri dengan jujur,
mengakui bahwa janji tanpa bukti adalah dosa administratif—
maka mungkin,
reformasi yang sejati akan dimulai dari diamnya hati
yang akhirnya berani berkata:
“Cukup sudah,
mari kita kembali menulis
kebijakan dengan mata yang terbuka”
Dan ketika seluruh angka tak lagi bisa menipu nurani,
maka yang tersisa hanyalah doa:
semoga negeri ini kembali belajar rendah hati di hadapan kebenaran,
bahwa kekuasaan hanyalah titipan,
dan kebijakan adalah ibadah yang menuntut kejujuran.
Sebab di atas segala data dan dokumen,
ada satu variabel yang tak bisa dimanipulasi —
amanah.
Dan barang siapa menulis kebijakan dengan hati yang bersih,
maka pena kebangsaannya akan disertai cahaya.
Bukan cahaya panggung,
melainkan cahaya Ilahi—
yang menuntun negeri ini pulang
kepada niat sucinya semula:
membahagiakan manusia, bukan menipu sejarah.
Comments
Post a Comment