”Sunnah yang Dirindukan Langit”

 ”Sunnah yang Dirindukan Langit”
 

Jangan kau tanya:
“Apakah ini wajib?”
Tanyalah hatimu:
“Apakah aku mencintai-Nya?”
 
Sebab yang mencinta,
tak menunggu diperintah,
tak menghitung pahala,
tapi selalu mencari alasan untuk kembali bersujud.
 
Rawatib bukan syarat,
ia adalah bisikan rindu,
adalah langkah sunyi kekasih
yang tak ingin berlalu
tanpa meninggalkan jejak cinta di sajadah waktu.
 
Dua rakaat sebelum Subuh,
bukan sekadar pembuka pagi,
tapi fajar yang membawa rahasia:
bahwa di sepertiga akhir malam
Tuhan sudah rindu disapa.
 
Empat rakaat sebelum Dzuhur, dua sesudahnya,
adalah pelukan tengah hari—
saat dunia menggoda,
kau berhenti sejenak,
dan berkata dalam diam:
“Tuhanku, aku masih memilih-Mu.”
 
Dua rakaat setelah Maghrib, dua setelah Isya,
adalah malam yang tak ingin cepat selesai.
Ia seperti surat cinta yang tak sempat dikirim siang hari,
maka kau tulis dengan rakaat,
kau segel dengan salam,
dan kau kirimkan ke langit—dengan harap diterima.
 
Para kekasih Allah berkata:
Yang wajib menyelamatkanmu dari murka,
tapi yang sunnah mendekatkanmu pada cinta.
Rawatib menambal robeknya khusyuk,
menyempurna sholat yang lelah,
menjadi taman-taman keindahan
di antara jalan wajib yang lurus.
 
Kau mungkin tak berdosa jika meninggalkannya,
tapi kau akan merasa hampa—
seperti surat tanpa salam,
seperti rumah tanpa cahaya,
seperti ibadah tanpa rasa.
 
Dua belas rakaat,
itu bukan beban—itu hadiah.
Bukan kewajiban—tapi keistimewaan
yang hanya dipilih oleh mereka
yang ingin lebih,
yang ingin dekat,
yang ingin manisnya dipandang oleh-Nya
di antara banyak yang sekadar hadir.
 
Maka dirikanlah,
bukan karena takut,
tapi karena rindu.
Bukan karena wajib,
tapi karena kau tak ingin jauh.
 
Dan pada akhirnya,
jika malaikat mencatat:
“Ia tak pernah meninggalkan rawatib.”
maka semoga langit pun menjawab:
“Inilah pecinta, bukan hanya penyembah.”
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts