“Syair Syuaib di Pasar Nusantara”
“Syair Syuaib di Pasar Nusantara”
Di pasar Madyan dahulu,
timbangan diselewengkan,
ukuran dipermainkan,
nafsu menjadi tuan.
Lalu Syuaib berdiri tegak,
menyeru dengan suara lembut:
“Jangan curangi hak-hak manusia,
jangan jadikan harta berhala,
karena Allah mengawasi
setiap butir beras yang ditakar.”
Berabad telah berlalu,
namun gema itu masih terasa,
menyusuri jalan-jalan negeri ini:
di sawah yang diperas tengkulak,
di pasar yang dikuasai kartel,
di kantor yang sibuk menyusun laporan
namun lupa pada nurani rakyat.
Indonesia—tanah subur anugerah Ilahi,
namun sering menangis
karena ketidakadilan.
Yang kecil kehilangan suara,
yang miskin kehilangan daya,
sementara yang berkuasa
bermain-main dengan angka
seakan Allah tak melihat.
Dan ada pula pejabat,
yang diberi amanah rakyat,
namun menjualnya demi kursi,
memutar janji menjadi tipu daya,
memelihara kemewahan pribadi
di atas perut lapar jutaan jiwa.
Mereka lupa,
bahwa setiap tanda tangan
akan menjadi saksi di akhirat,
dan setiap rupiah yang dicuri
akan berubah menjadi bara
di timbangan Allah.
Oh Syuaib,
jika engkau hadir di pasar Nusantara,
engkau pasti berkata dengan tangis:
“Jangan timbang dengan dusta,
jangan zalimi amanah,
karena setiap curang adalah doa terbalik
yang akan menimpa pelakunya sendiri.”
Maka dengarlah, wahai bangsaku:
syukur bukan sekadar ucapan,
tetapi keadilan dalam muamalah.
Sujud bukan hanya di sajadah,
tetapi juga di neraca timbangan yang jujur,
di akad yang bersih,
di harga yang adil,
di kepedulian kepada yang lemah.
Jika pesan Syuaib hidup di dada kita,
maka pasar menjadi dzikir,
pemerintahan menjadi amanah,
ekonomi menjadi ibadah,
dan negeri ini akan tegak
dengan rahmat Allah.
Sebab sesungguhnya,
rezeki bukan hanya angka di kertas,
tetapi berkah yang menenangkan hati.
Kekayaan bukan sekadar tumpukan emas,
tetapi rasa cukup yang menyalakan syukur.
Dan negeri ini akan makmur
bila setiap transaksi
dan setiap kebijakan
adalah sujud kecil
di hadapan Sang Maha Menyaksikan.
Ya Allah,
jadikan kami bangsa yang jujur,
agar timbangan kami ringan di dunia,
dan lebih ringan lagi di akhirat.
Jadikan pasar kami tempat ibadah,
birokrasi kami taman amanah,
dan kepemimpinan kami cahaya keadilan.
Tegakkan kebenaran di bumi pertiwi,
sebelum Engkau menegakkannya
di Padang Mahsyar yang abadi.
ⒷⒽⓌ
timbangan diselewengkan,
ukuran dipermainkan,
nafsu menjadi tuan.
Lalu Syuaib berdiri tegak,
menyeru dengan suara lembut:
“Jangan curangi hak-hak manusia,
jangan jadikan harta berhala,
karena Allah mengawasi
setiap butir beras yang ditakar.”
Berabad telah berlalu,
namun gema itu masih terasa,
menyusuri jalan-jalan negeri ini:
di sawah yang diperas tengkulak,
di pasar yang dikuasai kartel,
di kantor yang sibuk menyusun laporan
namun lupa pada nurani rakyat.
Indonesia—tanah subur anugerah Ilahi,
namun sering menangis
karena ketidakadilan.
Yang kecil kehilangan suara,
yang miskin kehilangan daya,
sementara yang berkuasa
bermain-main dengan angka
seakan Allah tak melihat.
Dan ada pula pejabat,
yang diberi amanah rakyat,
namun menjualnya demi kursi,
memutar janji menjadi tipu daya,
memelihara kemewahan pribadi
di atas perut lapar jutaan jiwa.
Mereka lupa,
bahwa setiap tanda tangan
akan menjadi saksi di akhirat,
dan setiap rupiah yang dicuri
akan berubah menjadi bara
di timbangan Allah.
Oh Syuaib,
jika engkau hadir di pasar Nusantara,
engkau pasti berkata dengan tangis:
“Jangan timbang dengan dusta,
jangan zalimi amanah,
karena setiap curang adalah doa terbalik
yang akan menimpa pelakunya sendiri.”
Maka dengarlah, wahai bangsaku:
syukur bukan sekadar ucapan,
tetapi keadilan dalam muamalah.
Sujud bukan hanya di sajadah,
tetapi juga di neraca timbangan yang jujur,
di akad yang bersih,
di harga yang adil,
di kepedulian kepada yang lemah.
Jika pesan Syuaib hidup di dada kita,
maka pasar menjadi dzikir,
pemerintahan menjadi amanah,
ekonomi menjadi ibadah,
dan negeri ini akan tegak
dengan rahmat Allah.
Sebab sesungguhnya,
rezeki bukan hanya angka di kertas,
tetapi berkah yang menenangkan hati.
Kekayaan bukan sekadar tumpukan emas,
tetapi rasa cukup yang menyalakan syukur.
Dan negeri ini akan makmur
bila setiap transaksi
dan setiap kebijakan
adalah sujud kecil
di hadapan Sang Maha Menyaksikan.
Ya Allah,
jadikan kami bangsa yang jujur,
agar timbangan kami ringan di dunia,
dan lebih ringan lagi di akhirat.
Jadikan pasar kami tempat ibadah,
birokrasi kami taman amanah,
dan kepemimpinan kami cahaya keadilan.
Tegakkan kebenaran di bumi pertiwi,
sebelum Engkau menegakkannya
di Padang Mahsyar yang abadi.
Comments
Post a Comment