“Tadarus di Bawah Reruntuhan”

“Tadarus di Bawah Reruntuhan”
(Puisi tentang keadilan, duka, dan kesadaran bangsa)

 

Di bawah puing-puing sajadah yang berdebu,
suara anak-anak yang dulu melantunkan ayat,
kini berubah menjadi dengung doa yang patah,
menggema di antara besi bengkok dan bata retak.
Tuhan, masihkah Kau dengar azan yang tersisa
di sela beton yang menindih mimpi mereka?
 
Di atas tanah ini,
di mana air mata bercampur lumpur dan semen,
kami melihat iman dipertaruhkan oleh kelalaian,
dan nyawa dibayar dengan izin yang tak pernah sah.
Mereka bilang: _“kita bangun kembali, biar cepat pulih,”_
tapi bagaimana membangun dinding,
jika keadilan masih tergeletak di bawah reruntuhan?
 
Ada suara ibu yang tak lagi menangis,
karena air matanya sudah menjadi garam di tanah.
Ada ayah yang menggenggam pecahan batu,
seolah di situ tersisa napas anaknya.
Dan para pejabat berseragam berfoto di antara puing,
menjanjikan “pembangunan kembali,”
sementara para santri kecil menatap nisan tanpa nama.
 
Oh negeri,
mengapa kita selalu cepat membangun gedung,
tapi lambat membangun nurani?
Mengapa kau biarkan hukum jadi bunga papan,
sementara fakta dikubur bersama bata dan baja?
Kami tak menolak pembangunan,
tapi kami menolak lalai.
 
Karena keadilan bukan sekadar laporan dan proyek,
ia adalah doa yang menolak diseret ke meja politik.
Biarkan hukum berjalan,
biarkan luka bicara,
biarkan keluarga menuntut tanpa dituduh tak beriman.
Sebab iman sejati tak menutup mata atas kezaliman.
 
NU menangis,
bukan karena takdir,
tetapi karena _amanah umat_ dikhianati oleh kecerobohan.
Pesantren bukan hanya tempat tidur santri,
ia adalah rumah ilmu dan marwah peradaban.
Dan bila rumah ilmu roboh karena keserakahan,
maka yang runtuh bukan hanya dinding,
tapi juga moral bangsa.
 
Tuhan,
ajari kami menundukkan kepala bukan hanya saat salat,
tetapi juga saat mengakui salah.
Ajari pejabat kami membangun dengan niat suci,
bukan dengan kepentingan dan citra diri.
Ajari para pemimpin memahami:
bahwa kecepatan membangun tanpa keadilan,
adalah bentuk lain dari menghancurkan.
 
Di ujung malam yang hening,
suara santri yang wafat itu masih terdengar,
lirih, tapi jelas:
 
“Bangunkanlah kembali pesantren kami,
bukan dengan semen, tapi dengan kejujuran.
Bangunkan keadilan lebih dulu,
baru nanti dindingnya.”

Dan kini,
dari celah reruntuhan itu,
tumbuh setangkai cahaya kecil—
mungkin dari tasbih yang terlepas,
mungkin dari doa yang belum selesai diucap.
 
Ia berkata lembut kepada negeri ini:
“Setiap tragedi adalah ayat yang jatuh dari langit,
bukan untuk dibaca dengan air mata,
tapi dengan pertobatan yang nyata.”
 
Maka, tunduklah wahai bangsa,
bukan karena takut pada murka,
melainkan karena rindu akan kasih-Nya.
Bangunlah negeri ini dengan rasa takwa,
dengan tangan yang bersih,
dan hati yang bergetar karena Allah semata.
 
Sebab di balik debu dan duka,
ada firman yang menunggu dijalankan:
‘Innallāha lā yughayyiru mā biqawmin,
hattā yughayyirū mā bi-anfusihim.’
— Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum,
sebelum mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri.
 
Dan di situlah tadarus sejati dimulai—
bukan di atas mushaf,
tapi di dalam jiwa yang sadar:
bahwa keadilan adalah ibadah,
dan kejujuran adalah dzikir yang paling tinggi.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts