”Tempat Allah Bersembunyi”

 ”Tempat Allah Bersembunyi”
 

Wahai anak jiwa,
engkau datang membawa tanya:
“Di mana Allah?”
“Bagaimana mendengar suara-Nya di dunia yang penuh kebisingan ini?”
 
Dengarkanlah,
bukan dengan telingamu,
tetapi dengan diam yang paling jujur dalam hatimu.
 
Allah
bukan hanya dalam kitab suci,
bukan hanya dalam sajadah yang harum,
bukan hanya dalam nasyid doa yang dilantunkan khusyuk dan merdu.
Ia juga ada di tempat yang tak kau kira:
di tangis bayi yang lapar,
di langkah seorang pemikul kayu,
di piring yatim piatu,
di debu jalanan yang dilindas gerobak pemulung.
 
Pernahkah kau menunduk cukup lama
untuk melihat-Nya di wajah orang yang kau remehkan?
 
Wahai jiwa yang mencari,
jangan mencari-Nya hanya di tempat yang suci,
cari pula Dia di tempat yang hancur,
karena kadang, Allah suka bersembunyi
di antara puing-puing yang telah kau buang.
 
Jika engkau ingin mendengar bisikan-Nya,
jangan sibuk menunggu suara dari langit.
Kadang suara itu datang lewat nestapa,
lewat luka yang kau keluhkan,
lewat pintu yang ditutup tepat saat kau hendak masuk.
 
Ya Syahid, Allah Yang Maha Menyaksikan, pandai menyamar:
menjadi waktu yang kau anggap lambat,
menjadi orang asing yang tiba-tiba peduli,
menjadi jalan memutar yang ternyata menyelamatkanmu.
 
Bersihkan matamu,
bukan dari debu,
tetapi dari prasangka.
Dan bisikan itu akan mulai terasa:
di sela napasmu,
di jeda kalimat orang lain,
di retak-retak hatimu yang mulai belajar pasrah.
 
Wahai jiwa yang sibuk,
jika engkau bisa mencintai-Nya
bukan hanya dalam nikmat,
tetapi juga dalam gelap dan genting—
hijabmu pun terbuka,
maka engkau tak lagi mencari,
karena engkau telah sampai,
meski kakimu masih berjalan.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts