“Tenang Adalah Jalan Pulang”
“Tenang Adalah Jalan Pulang”
Aku tak meminta takdir yang mudah,
hanya hati yang kuat saat jalan terasa curam.
Aku tak memohon dunia tunduk pada rencanaku,
hanya agar jiwaku tetap tegak,
meski angin tak lagi bersahabat.
Sebab aku tahu,
hidup bukan tentang menang setiap waktu,
tapi tentang bagaimana tetap jujur pada diri sendiri
saat segalanya terasa berat dan sunyi.
Masalah datang,
kadang bertubi-tubi.
Bukan karena aku ingin lebih,
tapi karena hidup memang tak bisa selalu ramah.
Dan tak apa.
Tak apa jika hari ini harus kugenggam dengan tangan gemetar.
Selama aku tak melepaskan nilai yang kupegang:
jujur, sabar, dan percaya.
Ada doa yang tak perlu suara.
Ada pasrah yang tak berarti menyerah.
Ada tenang yang lahir
justru setelah tangis yang panjang
dan letih yang tak dipamerkan siapa-siapa.
Tenang bukan berarti tak goyah,
hanya tahu bahwa setiap gelombang
pasti ada ujungnya.
Dan di sana,
ada Tuhan
yang tak pernah jauh
meski kadang terasa sepi.
Aku belajar menyambut hari
tanpa berharap semua sempurna.
Aku belajar mencintai hidup
tanpa harus selalu menang.
Dan di titik ini,
aku mulai mengerti:
ketenangan bukan soal keadaan,
tapi keputusan.
Keputusan untuk tetap percaya,
untuk tetap melangkah,
untuk tetap menjadi manusia baik
meski dunia sedang tak berpihak.
Karena pada akhirnya,
yang paling penting bukan siapa yang kuat,
tapi siapa yang tetap lembut
di tengah kerasnya ujian.
Dan aku ingin menjadi itu:
hati yang tak keras,
meski berkali-kali ditempa kecewa.
Langkah yang tak kabur,
meski jalan belum terlihat ujungnya.
Aku tahu,
jika aku tetap berjalan,
dengan niat yang lurus dan jiwa yang jujur,
aku tak sedang menjauh—
aku sedang pulang.
Ke arah Tuhan.
Ke arah tenang.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment