“Tenang yang Tak Pernah Sepi”

 “Tenang yang Tak Pernah Sepi”
 

Aku kira, di usia ini,
hidup akan menjadi halaman yang tenang:
pagi dengan kopi,
malam dengan cerita cucu yang lucu,
dan hati yang tak lagi ditagih dunia.
 
Tapi ternyata,
ketenangan bukan berarti tanpa gelisah.
Bukan karena diriku sendiri—
tapi karena mereka yang kucinta.
 
Anak-anak yang kini jadi orang tua,
berjuang di sekolah anaknya,
di pekerjaan yang tak ramah,
di rumah tangga yang kadang retak halus
meski terlihat utuh di luar.
 
Dan setiap kabar dari mereka
adalah angin yang mengetuk jendela hati ini.
Aku tak bisa diam.
Bukan ikut campur,
tapi ikut merasa.
 
Karena begitulah cara cinta bekerja:
meski sudah tua,
ia tetap muda dalam kepedulian.
 
Kadang aku ingin mengangkat beban itu dari punggung mereka,
tapi aku tahu,
setiap orang harus menempuh jalannya sendiri.
Mereka harus belajar,
seperti dulu aku belajar—dengan jatuh,
dengan salah,
dengan luka yang akhirnya jadi bekal.
 
Aku tak bisa menghalangi hidup menyentuh mereka,
tapi aku bisa jadi sandaran,
tempat mereka pulang,
meski hanya untuk bercerita—
meski hanya untuk diam bersama.
 
Tenang bukan berarti semua baik-baik saja,
tenang adalah
kemampuan menampung gelisah
tanpa runtuh,
kemampuan percaya
bahwa badai akan lewat,
dan mereka—anak cucuku—
punya cukup cahaya untuk melewatinya.
 
Aku di sini,
bukan untuk menyelesaikan hidup mereka,
tapi untuk tetap menjadi pohon tua
yang diam-diam menjaga,
walau dari kejauhan.
 
Dan dalam diam itu,
aku terus belajar:
Ternyata cinta yang dewasa
bukan yang ingin menyelamatkan,
tapi yang siap mendampingi
tanpa banyak suara,
tapi dengan sepenuh jiwa
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts