”Tiga Kaki Kehidupan”
”Tiga Kaki Kehidupan”
Di ujung sajadah, aku menata niat,
bukan sekadar menghitung laba,
tapi menakar ridha-Nya,
agar setiap langkah upaya menjadi doa yang berjalan.
Kekayaan bukan singgasana,
ia hanyalah perahu,
membawaku melintasi samudra kewajiban,
menyelamatkan keluarga dari gelombang kekurangan,
tanpa karam di lautan keserakahan.
Di setiap untung yang menetes,
aku sisipkan benih manfaat,
agar tangan yang memberi
tak menunggu penuh baru mau berbagi.
Namun aku tahu,
ambisi itu licik—
ia menyamar sebagai cita-cita,
lalu mencuri waktu sujud dan teduhnya hati.
Maka kutegakkan tiga tiang tanya:
Apakah ini mendekatkan aku pada-Nya?
Apakah ini menegakkan nafkah yang halal?
Apakah ini meninggalkan jejak kebaikan di bumi?
Jika salah satu runtuh,
kursi kehidupanku pincang,
dan aku—meski duduk di atas emas—
tetap akan jatuh.
Namun, bila ketiganya tegak,
hidup menjadi jembatan yang kokoh,
menghubungkan bumi tempatku berusaha
dengan langit tempat doa-doa berlabuh.
Di sana aku berjalan,
membawa rezeki yang halal,
membagi senyum yang tulus,
dan menanam amal yang tak lekang oleh musim.
Sebab aku percaya—
di akhir perjalanan,
bukan tabungan yang menjadi warisan,
melainkan doa dari jiwa-jiwa yang pernah
merasakan hangatnya keberadaanku di dunia.
ⒷⒽⓌ
bukan sekadar menghitung laba,
tapi menakar ridha-Nya,
agar setiap langkah upaya menjadi doa yang berjalan.
Kekayaan bukan singgasana,
ia hanyalah perahu,
membawaku melintasi samudra kewajiban,
menyelamatkan keluarga dari gelombang kekurangan,
tanpa karam di lautan keserakahan.
Di setiap untung yang menetes,
aku sisipkan benih manfaat,
agar tangan yang memberi
tak menunggu penuh baru mau berbagi.
Namun aku tahu,
ambisi itu licik—
ia menyamar sebagai cita-cita,
lalu mencuri waktu sujud dan teduhnya hati.
Maka kutegakkan tiga tiang tanya:
Apakah ini mendekatkan aku pada-Nya?
Apakah ini menegakkan nafkah yang halal?
Apakah ini meninggalkan jejak kebaikan di bumi?
Jika salah satu runtuh,
kursi kehidupanku pincang,
dan aku—meski duduk di atas emas—
tetap akan jatuh.
Namun, bila ketiganya tegak,
hidup menjadi jembatan yang kokoh,
menghubungkan bumi tempatku berusaha
dengan langit tempat doa-doa berlabuh.
Di sana aku berjalan,
membawa rezeki yang halal,
membagi senyum yang tulus,
dan menanam amal yang tak lekang oleh musim.
Sebab aku percaya—
di akhir perjalanan,
bukan tabungan yang menjadi warisan,
melainkan doa dari jiwa-jiwa yang pernah
merasakan hangatnya keberadaanku di dunia.
Comments
Post a Comment