“Tiga Sumpah di Bawah Langit Merah Putih”
“Tiga Sumpah di Bawah Langit Merah Putih”
Sembilan puluh tujuh tahun lalu,
anak-anak muda berdiri di bawah langit Batavia,
dengan dada berdebar, mata menyala,
dan kalimat suci lahir dari rahim sejarah:
“Satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa.”
anak-anak muda berdiri di bawah langit Batavia,
dengan dada berdebar, mata menyala,
dan kalimat suci lahir dari rahim sejarah:
“Satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa.”
Mereka tak mewarisi negeri —
mereka melahirkannya
dari perih, dari penjajahan,
dari luka yang mereka jahit dengan harapan.
mereka melahirkannya
dari perih, dari penjajahan,
dari luka yang mereka jahit dengan harapan.
Kini,
kita berdiri di tanah yang sama,
mengibarkan bendera yang sama,
namun entah —
apakah semangat itu masih menyala,
atau telah padam di bawah gemerlap kekuasaan?
kita berdiri di tanah yang sama,
mengibarkan bendera yang sama,
namun entah —
apakah semangat itu masih menyala,
atau telah padam di bawah gemerlap kekuasaan?
Kita telah merdeka delapan puluh tahun,
tapi banyak jiwa masih dijajah kemiskinan.
Sekolah berdiri megah,
namun pikiran masih terbelenggu ketakutan.
Gedung menjulang tinggi,
namun nurani tumbang di bawah meja korupsi.
Negara besar ini menatap cermin,
dan kadang tak mengenali wajahnya sendiri.
tapi banyak jiwa masih dijajah kemiskinan.
Sekolah berdiri megah,
namun pikiran masih terbelenggu ketakutan.
Gedung menjulang tinggi,
namun nurani tumbang di bawah meja korupsi.
Negara besar ini menatap cermin,
dan kadang tak mengenali wajahnya sendiri.
Oh Indonesia,
kau bukan lahir untuk menjadi panggung retorika,
kau lahir dari air mata ibu yang kehilangan anaknya,
dari peluh petani yang tak kenal lelah,
dari darah pejuang yang menolak tunduk.
kau bukan lahir untuk menjadi panggung retorika,
kau lahir dari air mata ibu yang kehilangan anaknya,
dari peluh petani yang tak kenal lelah,
dari darah pejuang yang menolak tunduk.
Apakah semua itu akan kita khianati
demi selembar kursi, segenggam kuasa,
dan setetes keserakahan?
Bangkitlah, wahai pemuda!
bukan hanya untuk bersuara,
tapi untuk berjuang tanpa pamrih.
demi selembar kursi, segenggam kuasa,
dan setetes keserakahan?
Bangkitlah, wahai pemuda!
bukan hanya untuk bersuara,
tapi untuk berjuang tanpa pamrih.
Pemuda bukan sekadar usia,
tapi jiwa yang menolak mati,
yang percaya bahwa bangsa ini
masih bisa suci, masih bisa tumbuh,
asal hati-hati kita tidak membatu.
tapi jiwa yang menolak mati,
yang percaya bahwa bangsa ini
masih bisa suci, masih bisa tumbuh,
asal hati-hati kita tidak membatu.
Bangsa besar tidak diukur dari jumlah gedungnya,
tetapi dari kedalaman kasih pada sesamanya.
Merdeka sejati bukan soal bebas berbicara,
tetapi berani berkata benar.
tetapi dari kedalaman kasih pada sesamanya.
Merdeka sejati bukan soal bebas berbicara,
tetapi berani berkata benar.
Dan bila engkau lelah,
ingatlah:
di setiap jengkal tanah ini
ada doa yang menetes dari langit.
Doa para ibu yang tak dikenal namanya,
doa para pahlawan yang kini menjadi debu,
doa bumi yang masih sabar memeluk kita
meski sering kita lukai.
ingatlah:
di setiap jengkal tanah ini
ada doa yang menetes dari langit.
Doa para ibu yang tak dikenal namanya,
doa para pahlawan yang kini menjadi debu,
doa bumi yang masih sabar memeluk kita
meski sering kita lukai.
Bangkitlah, Indonesia,
karena Tuhan belum berpaling darimu.
Selama masih ada yang berdoa,
yang bekerja jujur,
yang mencintai tanpa pamrih,
api Sumpah Pemuda tidak akan padam.
karena Tuhan belum berpaling darimu.
Selama masih ada yang berdoa,
yang bekerja jujur,
yang mencintai tanpa pamrih,
api Sumpah Pemuda tidak akan padam.
Berkibarlah, Merah Putih,
bukan di langit istana,
tapi di hati setiap anak bangsa
yang masih percaya:
Keadilan adalah kemerdekaan yang sejati.
bukan di langit istana,
tapi di hati setiap anak bangsa
yang masih percaya:
Keadilan adalah kemerdekaan yang sejati.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment