"Topi Jerami, Gosip, dan Negeri Serius"
"Topi Jerami, Gosip, dan Negeri
Serius"
Di laut biru yang tak punya ujung,
hidup seorang pemuda—giginya renggang,
mimpinya panjang.
Namanya Luffy,
dan tawanya sering disalahpahami
oleh dunia yang takut bahagia tanpa izin.
Nami dihujat karena buka peta tanpa izin,
Sanji dituding korupsi mie ramen di kantin.
Zoro tersesat tapi dituduh sabotase,
Padahal dia cuma nyasar—lagi—ke kota sebelah base.
Media ramai.
Setiap pagi muncul berita:
“Topi Jerami bikin onar!”
Padahal dia cuma bantu kura-kura
yang tersangkut di tiang layar.
Tapi kamera menyorot
dari sudut yang paling dramatis,
dan wartawan berteriak,
“Dia ancaman nasionalis!”
---
Di studio mewah,
para pakar duduk rapi—jas licin, suara tinggi.
Mereka debat soal moral bajak laut,
soal tata krama saat menyerbu markas angkatan laut.
“Dia tidak sopan,” kata yang satu.
“Dia tidak hormat,” kata yang lain.
Padahal mereka belum pernah
naik kapal kayu dalam badai lima hari
tanpa sinyal dan kopi pagi.
---
Di kampung kecil,
anak-anak menirukan gaya Luffy,
topi jerami dari kardus mie instan,
dan bendera bajak laut dicat di tembok masjid.
Mereka bilang:
“Bukan dia penjahat,
dia cuma orang biasa
yang gak tahan melihat temannya ditindas.”
Dan di mata anak-anak,
itulah pahlawan sejati.
---
Pemerintah mendengar,
lalu menggelar sidang tertutup,
menggodok undang-undang
tentang bagaimana tertawa dengan wajar.
Mereka keluarkan larangan bercanda
di depan simbol negara.
Lalu bilang:
“Ini demi stabilitas dan estetika.”
---
Tapi Luffy tak peduli.
Dia bukan tokoh politik.
Dia bukan kutu buku revolusi.
Dia hanya anak kecil yang tumbuh,
dan belum lupa caranya bermimpi.
Dia bilang:
“Kalau teman disakiti, aku lawan.
Kalau hidup ini cuma aturan,
buat apa laut terbentang begitu luas?”
---
Di sanalah letak harapan,
bukan di rapat atau ruang media,
tapi di tawa yang tidak bisa dibungkam,
di semangat yang lahir dari rasa kalah,
dan di langkah kecil
yang terus menolak tunduk
walau terus dianggap salah.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment