"Wahai jiwa yang sedang berduka"
Wahai
jiwa yang sedang berduka,
Jangan kau ratapi kepergiannya seolah ia lenyap,
Ia hanya menepi dari dunia yang riuh,
pulang ke pangkuan Kekasih Sejati,
ke rumah cahaya yang tak mengenal lelah dan luka.
Ia tak hilang—
hanya bersembunyi di balik tabir waktu,
berjalan di taman-taman abadi
yang hanya bisa disentuh oleh doa yang jernih,
oleh air mata yang suci,
oleh cinta yang tak meminta kembali.
Tangisilah jika hatimu menumpahkannya,
karena cinta yang dalam memang mengenal air mata,
tapi jangan kau sangka kesedihan ini sia-sia—
setiap tetesnya bisa menjadi bunga
yang tumbuh di jalan menuju perjumpaan kembali.
Ia tidak pergi, sahabatmu itu,
ia hanya diseru oleh Pemilik Ruh,
dan menjawab panggilan itu seperti malam menjawab cahaya fajar:
dengan pasrah yang lembut,
dengan diam yang penuh makna.
Kita semua tengah berjalan ke arah yang sama,
hanya jarak yang memisahkan langkah-langkah kita.
Hari ini ia sampai lebih dulu,
besok, lusa, entah kapan,
giliran kita yang akan mengetuk pintu keabadian.
Maka kirimkanlah cintamu bukan dengan ratap,
tapi dengan dzikir,
dengan amal yang kau titipkan atas namanya,
dengan sujud yang lebih dalam dari biasanya.
Sebab ruh-ruh yang saling mencintai karena Allah,
akan berkumpul kembali di sisi-Nya.
Dan ketika malam menjadi sunyi,
duduklah dalam hening.
Sebut namanya dalam hatimu.
Barangkali di sana,
ia juga sedang mengenangmu—dalam damai.
Jangan kau ratapi kepergiannya seolah ia lenyap,
Ia hanya menepi dari dunia yang riuh,
pulang ke pangkuan Kekasih Sejati,
ke rumah cahaya yang tak mengenal lelah dan luka.
Ia tak hilang—
hanya bersembunyi di balik tabir waktu,
berjalan di taman-taman abadi
yang hanya bisa disentuh oleh doa yang jernih,
oleh air mata yang suci,
oleh cinta yang tak meminta kembali.
Tangisilah jika hatimu menumpahkannya,
karena cinta yang dalam memang mengenal air mata,
tapi jangan kau sangka kesedihan ini sia-sia—
setiap tetesnya bisa menjadi bunga
yang tumbuh di jalan menuju perjumpaan kembali.
Ia tidak pergi, sahabatmu itu,
ia hanya diseru oleh Pemilik Ruh,
dan menjawab panggilan itu seperti malam menjawab cahaya fajar:
dengan pasrah yang lembut,
dengan diam yang penuh makna.
Kita semua tengah berjalan ke arah yang sama,
hanya jarak yang memisahkan langkah-langkah kita.
Hari ini ia sampai lebih dulu,
besok, lusa, entah kapan,
giliran kita yang akan mengetuk pintu keabadian.
Maka kirimkanlah cintamu bukan dengan ratap,
tapi dengan dzikir,
dengan amal yang kau titipkan atas namanya,
dengan sujud yang lebih dalam dari biasanya.
Sebab ruh-ruh yang saling mencintai karena Allah,
akan berkumpul kembali di sisi-Nya.
Dan ketika malam menjadi sunyi,
duduklah dalam hening.
Sebut namanya dalam hatimu.
Barangkali di sana,
ia juga sedang mengenangmu—dalam damai.
"Ia tidak mati. Ia hanya pulang. Dan kita semua akan menyusul, dalam waktu yang telah ditentukan oleh Cinta."
Makkah Al Mukaromah. June 4, 2025.
Comments
Post a Comment