”Yang Mengingat Allah, Juga Mengasihi Sesama”
”Yang Mengingat Allah, Juga Mengasihi
Sesama”
Bukan hanya di sajadah ia tunduk,
bukan hanya di mihrab ia khusyuk.
Ia paham, sujudnya bukan sekadar gerak,
tapi janji untuk menjadi cahaya di tengah gelap.
Ia tak hanya fasih membaca ayat,
tapi berusaha menjadi makna dari ayat itu sendiri.
Maka tangannya ringan membantu,
dan lisannya menjaga agar tak melukai.
Ia tahu,
ibadah bukan hanya antara dirinya dan Tuhan,
tapi juga antara dirinya dan mereka
yang lapar, yang takut, yang berbeda,
yang tak selalu sepaham,
namun tetap bagian dari kemanusiaan.
Ia sadar,
bahwa salat lima waktu tak bisa menggantikan
hak tetangga yang terabaikan,
atau senyum yang tak pernah ia tebarkan
pada mereka yang hanya ingin sedikit dihargai.
Baginya,
menjadi hamba Allah bukan hanya status,
tapi sikap—
yang tampak dalam kejujuran hitungannya,
dalam sabarnya memahami perbedaan,
dalam empatinya pada mereka
yang tak sempat bersuara.
Ia tak merasa suci,
hanya terus belajar memperbaiki diri.
Tak sibuk menunjuk salah,
tapi hadir sebagai pelipur dan pelita.
Karena ia tahu,
Tuhan tidak hanya melihat rakaat,
tapi juga koneksi—
antara hati dan sesama,
antara ilmu dan amal nyata.
Ia yang mengingat Allah,
juga tak lupa pada manusia.
Ia yang mencintai akhirat,
tak meninggalkan luka di dunia.
Sebab jalan menuju surga,
sering kali melewati pintu rumah tetangga.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment