Berjalan Lurus di Jalan yang Miring

 “Berjalan Lurus di Jalan yang Miring”


Negeri ini ramai bicara tentang kebaikan,
tapi langkah-langkahnya menuju arah lain.
Hukum berbicara pelan, uang berteriak lantang,
dan kejujuran tampak seperti tamu yang salah alamat.

Kata orang, “Kalau ingin selamat, beloklah sedikit.”
Tapi hatiku menjawab, “Kalau semua belok, siapa yang menegakkan arah?”

Aku lihat orang jujur jadi bahan tawa,
orang sabar disebut lamban,
orang patuh dibilang bodoh.
Di seberang sana, tipu daya naik jabatan,
dan dusta disambut tepuk tangan.

Dan kini, masyarakat pun ikut begitu.
Ketika salah diingatkan, mereka marah.
Ketika diajak sadar, mereka lebih galak dari yang menegur.
Mereka berkata,
“Siapa kamu? Apa hakmu menegur?”
Seolah kebenaran perlu izin,
dan nurani harus punya jabatan untuk bisa bersuara.

Aku terdiam, bukan karena takut,
tapi karena tahu: lidah mereka sudah didekap oleh kebiasaan salah.
Hati mereka sudah penat oleh gelap yang mereka rawat.

Aku hampir putus asa, Tuhan.
Aku gemas, karena Engkau tampak diam
ketika kejujuran jatuh tersungkur di depan gedung megah
yang dibangun dari uang curian.

Tapi Engkau berbisik lewat sunyi:
“Anak-Ku, Aku tidak menghitung hasilmu di bumi,
Aku menghitung keteguhan hatimu dalam badai.”
Engkau berkata,
“Jalan yang lurus memang tampak kalah di dunia miring,
tapi di mata-Ku, yang miringlah yang tersesat.”

Maka aku terus berjalan,
bukan karena berharap tepuk tangan,
tapi karena langkah ini adalah doa panjang dari jiwa yang menolak kehilangan cahaya
hanya karena udara di sekitarnya berbau bangkai.

Aku belajar bahwa kebenaran tidak butuh saksi,
karena ia berdiri sendiri di hadapan langit.
Dan kejujuran yang tampak sia-sia hari ini,
sedang ditulis diam-diam
di buku cahaya yang disimpan di balik waktu.

Mungkin hidup ini memang tidak adil,
tapi mungkin keadilan bukan soal menang,
melainkan tetap jujur walau kalah.
Mungkin surga bukan tempat jauh di atas sana,
melainkan sepotong damai
di hati orang yang menolak ikut kotor
meski tanah sekitarnya berlumpur.

Maka aku akan terus berjalan,
dengan langkah yang gemetar tapi sadar,
dengan hati yang luka tapi yakin:
Tuhan tidak pernah menulis kebaikan dengan tinta sia-sia.

Dan jika dunia tak memberi ruang bagi yang jujur,
maka biarlah langit yang memberinya tempat.
Sebab yang berjalan lurus di jalan miring,
sedang meniti tangga yang tak terlihat —
menuju rumah yang tidak bisa dibeli dengan kuasa.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts