Doa di Antara Dua Nama

 “Doa di Antara Dua Nama”
Marsinah dan Soeharto dalam Cermin Republik


Malam membuka kitab waktu,
di sana tertulis dua nama dengan tinta yang berbeda:
satu dari besi, satu dari air mata.
Soeharto di halaman kuasa,
Marsinah di catatan keadilan yang tak selesai.

Langit menatap dengan mata kelabu,
tak tahu harus berduka atau tersenyum.
Sebab sejarah, seperti juga manusia,
pandai menyembunyikan luka di balik upacara.


Dulu, negeri ini dibangun dengan perintah dan parade,
dengan ketakutan yang disulap jadi kedisiplinan.
Rakyat berbaris di jalan pembangunan
tanpa tahu siapa yang hilang di pinggir jalan.

Di pabrik-pabrik berdebu,
Marsinah menulis perlawanan dengan keringat dan keberanian.
Suaranya kecil, tapi menggetarkan dinding besi,
menyentuh hati buruh yang terbiasa diam.

Namun malam datang tanpa belas kasihan.
Ia direnggut dari dunia yang ia perjuangkan,
tubuhnya dikembalikan pada bumi —
tapi suaranya naik ke langit,
meminta Tuhan mencatat yang tak sempat ditulis manusia.


Sementara itu, di istana yang terang tapi sunyi,
Soeharto berdoa dalam bahasa kekuasaan:
“Ya Tuhan, beri aku kekuatan menjaga negeri ini.”
Dan Tuhan, dalam kebisuan-Nya yang dalam,
mungkin menjawab: “Jaga, tapi jangan kau miliki.”

Namun siapa yang bisa menolak godaan kuasa?
Negeri pun tumbuh megah tapi bisu,
berdiri kokoh di atas sunyi orang-orang yang dikorbankan.


Tiga puluh tahun berlalu.
Bangsa ini mulai menyebut nama-nama yang dulu dilarang,
menulis kembali sejarah yang sempat dibakar.
Dan kini, dalam upacara yang hening dan ganjil,
dua nama itu — penguasa dan yang dikuasai —
disebut bersama, dalam satu kalimat kenegaraan.

Apakah itu rekonsiliasi, atau kebingungan sejarah?
Apakah bangsa ini telah sembuh,
atau sekadar kehilangan rasa sakitnya?


Aku membayangkan Marsinah menatap dari langit rendah,
tersenyum pahit pada patung-patung yang berdiri kaku.
Ia tahu: yang benar tak selalu menang di bumi,
tapi selalu hidup di ingatan langit.

Dan Soeharto, mungkin duduk di tepi sunyi,
menatap wajah rakyat yang dulu ia jaga dengan ketakutan.
Mungkin ia menyesal,
atau mungkin masih yakin semuanya demi negeri.


Dunia ini memang aneh:
kadang pelaku dan korban
disatukan oleh sejarah yang kehilangan arah.

Namun di sanalah letak keindahan sekaligus kengerian kita —
bahwa bangsa ini terus berjalan,
di atas luka yang belum seluruhnya sembuh,
dengan doa yang separuh bergetar, separuh lupa.


Wahai negeri yang pandai memaafkan tapi jarang belajar,
ingatlah:
kekuasaan tanpa kasih adalah batu yang menimpa,
dan keberanian tanpa doa adalah api yang membakar diri.

Belajarlah dari dua nama itu:
dari Soeharto, tentang bahaya merasa benar terlalu lama,
dan dari Marsinah, tentang kekuatan berkata “tidak” dengan lembut.

Sebab setiap zaman punya Soeharto-nya,
dan setiap hati yang tulus,
menyimpan Marsinah kecil di dalamnya.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts