Embun di Atas Lencana

 “Embun di Atas Lencana”


Di balik megah seragam yang lama dijahit sejarah,
ada riuh bisik perubahan
yang mengetuk pintu-pintu lembaga.
Tak semua suka; tak semua siap.
Namun zaman selalu meminta keberanian
lebih besar dari kenyamanan.

Polisi yang kembali ke rumah asalnya,
ke pangkuan Polri sebagai abdi utuh,
adalah langkah menata ulang kompas,
mencari arah yang lebih jernih
demi tegaknya marwah,
demi beningnya institusi
yang selama ini menahan ribuan badai.

Benar, akan ada kekecewaan—
seperti gelombang kecil
yang protes pada pantai karena ia harus pecah.
Akan ada perlawanan—
seperti bayang-bayang
yang enggan berpisah dari tubuh kebiasaan.

Namun perubahan tak boleh gentar
oleh rasa takut, apalagi oleh gema amarah.
Reformasi bukan cambuk,
melainkan cermin:
tempat setiap insan Bhayangkara melihat kembali
untuk apa mereka pertama kali bersumpah.
Untuk rakyat.
Untuk keadilan.
Untuk nama baik yang lebih berharga
daripada jabatan apa pun.

Biarlah langkah ini jadi jalan sunyi
yang ditapaki dengan kepala tegak,
tanpa gaduh, tanpa benturan,
namun dengan hati yang paham
bahwa pelayanan publik
hanya dapat bersinar
bila pondasinya lurus dan bersih.

Wahai Polri,
jadilah teladan yang tidak hanya kuat,
melainkan jujur pada dirinya sendiri.
Biarlah reformasi menjadi suluh
yang menerangi lorong-lorong gelap,
membawa institusi ini
ke masa depan yang lebih terang,
lebih dipercaya,
lebih mulia.

Karena bangsa ini butuh polisi
yang tidak hanya menjaga keamanan,
tapi juga menjaga harapan.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts