Ketika Keadilan Memilih Berdiri di Sisi Kuasa
“Ketika Keadilan Memilih Berdiri di Sisi Kuasa”
— Paradoks keadilan di negeri yang mencintai simbol lebih dari nilai
Di negeri ini,
hukum masih pandai menunduk kepada jabatan,
dan keadilan masih menoleh ke arah siapa yang bicara,
bukan pada apa yang benar.
hukum masih pandai menunduk kepada jabatan,
dan keadilan masih menoleh ke arah siapa yang bicara,
bukan pada apa yang benar.
Sama-sama pernah bersalah,
tapi yang dekat dengan singgasana diberi bintang republik di dada,
sedang yang jauh dari lingkar kuasa
dicabut kehormatannya di depan murid-muridnya sendiri.
Beginikah nasib bangsa
yang mengaku hidup di bawah cahaya Pancasila,
tapi berjalan dengan kompas yang retak arah?
Bintang penghargaan digantung di dada yang belum bersih,
sementara kejujuran menunggu giliran
di lorong sunyi yang tak lagi dikunjungi.
sementara kejujuran menunggu giliran
di lorong sunyi yang tak lagi dikunjungi.
Hukum menulis dengan tinta emas bagi penguasa,
dan dengan darah bagi yang tak punya suara.
dan dengan darah bagi yang tak punya suara.
Aku bertanya kepada langit:
di manakah keadilan bersembunyi?
Apakah ia kini hanya bayangan dalam pidato,
sementara ruhnya tersesat di istana?
Negeri ini tidak sedang kekurangan hukum,
tapi kekurangan malu.
Tidak sedang miskin aturan,
tapi miskin keberanian untuk menegakkan nurani.
Namun dalam sunyi yang paling dalam,
ada sesuatu yang tetap menyala —
bukan di tangan, bukan di lencana,
melainkan di ruang hati yang tak bisa dibeli.
Di sana, suara kecil berbisik:
“Jangan ikut gelap hanya karena cahaya dipadamkan.”
Dan bisikan itu —
lebih suci dari seribu pidato tentang moralitas.
Karena pada akhirnya,
keadilan tidak mati,
ia hanya sedang menunggu manusia
yang cukup berani
untuk tak berpihak.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment