Menunggang Ombak Waktu (I)
“Menunggang Ombak Waktu (I)”
— Belajar Menari di Atas Perubahan
Situasi datang dan pergi —
bagai ombak di laut kesadaran,
kadang teduh seolah bersahabat,
kadang menggulung tinggi, menantang batas keberanian.
Ia tak memilih waktu, tak menunggu kesiapan,
datang begitu saja, seperti napas kehidupan.
bagai ombak di laut kesadaran,
kadang teduh seolah bersahabat,
kadang menggulung tinggi, menantang batas keberanian.
Ia tak memilih waktu, tak menunggu kesiapan,
datang begitu saja, seperti napas kehidupan.
Banyak yang menyebutnya masalah,
padahal ia hanya gerak alam,
gelombang hidup yang menagih tafsir:
apakah kita tenggelam dalam takut,
atau belajar menari di atas riaknya?
padahal ia hanya gerak alam,
gelombang hidup yang menagih tafsir:
apakah kita tenggelam dalam takut,
atau belajar menari di atas riaknya?
Sebab bukan ombak yang menenggelamkan,
melainkan ketidaktahuan cara berenang.
Bukan badai yang membuat gentar,
melainkan hati yang tak mengenal pusat tenangnya.
melainkan ketidaktahuan cara berenang.
Bukan badai yang membuat gentar,
melainkan hati yang tak mengenal pusat tenangnya.
Jika kita belajar berselancar di atas arus,
ombak yang sama menjadi kawan bermain,
mengajarkan keseimbangan dan kepekaan,
bahwa kendali sejati bukan pada laut,
melainkan pada jiwa yang berani menatapnya.
ombak yang sama menjadi kawan bermain,
mengajarkan keseimbangan dan kepekaan,
bahwa kendali sejati bukan pada laut,
melainkan pada jiwa yang berani menatapnya.
Hidup bukan tentang menolak badai,
melainkan menari di atasnya —
membiarkan angin menerpa wajah,
sambil tersenyum pada ketidakkekalan.
melainkan menari di atasnya —
membiarkan angin menerpa wajah,
sambil tersenyum pada ketidakkekalan.
Sebab setiap gelombang adalah panggilan:
untuk tumbuh, untuk sadar, untuk pulang.
Pulang ke pusat diri yang hening,
tempat di mana segala riuh berhenti menjadi doa.
untuk tumbuh, untuk sadar, untuk pulang.
Pulang ke pusat diri yang hening,
tempat di mana segala riuh berhenti menjadi doa.
Di sanalah lautan sejati berdiam,
tak berombak, tak bertepi.
Dan siapa yang telah mengenalnya,
akan menunggang ombak waktu tanpa takut tenggelam,
sebab ia tahu —
bahwa hidup bukan untuk melawan,
melainkan untuk menyatu dengan segala perubahan.
tak berombak, tak bertepi.
Dan siapa yang telah mengenalnya,
akan menunggang ombak waktu tanpa takut tenggelam,
sebab ia tahu —
bahwa hidup bukan untuk melawan,
melainkan untuk menyatu dengan segala perubahan.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment