Negeri yang Tak Sudi Menjadi Tamu di Tanah Sendiri
Negeri yang Tak Sudi Menjadi Tamu di Tanah Sendiri
— Puisi satir tentang Kedaulatan, Kekuasaan, dan Hati Nurani Bangsa
— Puisi satir tentang Kedaulatan, Kekuasaan, dan Hati Nurani Bangsa
⸻
I. Bandara yang Sunyi dari Negara
Di teluk timur Sulawesi,
asap nikel naik seperti doa yang tak lagi menyebut nama langit.
Burung besi datang dan pergi,
namun paspor negeri sendiri tak diberi salam,
petugas batas tak diminta hadir.
Bandara berdiri diam—
seolah republik ini hanya etalase yang boleh dilihat dari jauh,
tak usah disentuh, tak usah ditanya:
“Siapa pemilikmu?
Di bawah kuasa siapa pasir dan air laut ini?”
I. Bandara yang Sunyi dari Negara
Di teluk timur Sulawesi,
asap nikel naik seperti doa yang tak lagi menyebut nama langit.
Burung besi datang dan pergi,
namun paspor negeri sendiri tak diberi salam,
petugas batas tak diminta hadir.
Bandara berdiri diam—
seolah republik ini hanya etalase yang boleh dilihat dari jauh,
tak usah disentuh, tak usah ditanya:
“Siapa pemilikmu?
Di bawah kuasa siapa pasir dan air laut ini?”
⸻
II. Bayang Berseragam di Balik Bara
Para pekerja berkeringat
mengangkat masa depan dari bara dan logam.
Namun di belakang sejarah yang berdebu,
berjalan bayang-bayang berseragam,
yang dulu melindungi tanah air,
kini melindungi pundi-pundi
yang tak dicatat dalam kitab negara.
⸻
III. Tentara Datang—Seolah Kebetulan
Maka datanglah tentara,
dengan dalih latihan—integrasi dan kesiapsiagaan.
Namun langkahnya terdengar seperti kode rahasia:
kita kembali hendak hadir,
di tanah kita sendiri.
Dan Menhan berkata lirih namun jelas:
“Tak boleh ada negara dalam negara.”
Kalimat pendek,
tapi ia menampar wajah kita sendiri:
Sejak kapan kita menjadi tamu
di perbatasan yang kita dirikan?
III. Tentara Datang—Seolah Kebetulan
Maka datanglah tentara,
dengan dalih latihan—integrasi dan kesiapsiagaan.
Namun langkahnya terdengar seperti kode rahasia:
kita kembali hendak hadir,
di tanah kita sendiri.
Dan Menhan berkata lirih namun jelas:
“Tak boleh ada negara dalam negara.”
Kalimat pendek,
tapi ia menampar wajah kita sendiri:
Sejak kapan kita menjadi tamu
di perbatasan yang kita dirikan?
⸻
IV. Kekuasaan yang Menimbang Ketakutan
Presiden menimbang—
antara tegas yang penuh risiko,
dan diam yang menggadaikan masa depan.
Ia tahu:
kedaulatan bukan hanya kata,
tapi keberanian untuk menghormati
nilai yang dilindungi seragam dan konstitusi.
Namun barangkali juga,
ada rasa kikuk dan ewuh pakewuh,
pada bintang-bintang yang berderet di belakang.
Barangkali ada kekhawatiran
bahwa meluruskan garis bisa membuat garis lain retak.
Tetapi, wahai negeri yang besar,
ketahuilah:
Negara tak boleh kalah oleh bayang-bayangnya sendiri.
Tanah tak boleh tunduk pada yang berjalan di atasnya.
Awan tak boleh mencatat
bahwa kita pernah takut pada kebenaran yang memanggil namanya.
⸻
V. Kembalilah Kepada Amanah—Karena Ini Kedaulatan Bangsa
Maka tegakkanlah kepala, Indonesia.
Kembalikan semua yang atas nama rakyat,
kepada rakyat.
Biarkan bandara itu
menjadi pintu resmi yang menyambut masa depan—
bukan lorong gelap yang menyembunyikan siapa yang paling berkuasa.
Dan kepada mereka yang diam-diam menukar kedaulatan
dengan selisih laba dan kursi kehormatan—
ingat:
keagungan suatu bangsa bukan ditakar dari tungku peleburan,
tapi dari keberanian menegakkan apa yang benar
walau keuntungan besar menjerit ingin bertahan.
Mari berdiri bersama,
bukan untuk melawan,
melainkan untuk mengingatkan:
bahwa republik ini
didirikan bukan untuk dijual.
Indonesia, jangan izinkan industri menjadi istana tanpa bendera.
Jangan biarkan emas hijau nikel
menghijaukan mata dan menghitamkan nurani.
Karena anak cucu akan bertanya:
“Saat negara tergelincir jadi penonton,
di manakah kita berdiri?”
Dan kita ingin menjawab,
bahwa kita tidak diam.
Bahwa kita memilih terang.
Bahwa negeri ini,
akan selalu kembali pada dirinya sendiri.
⸻
VI. Renungan: Bumi Titipan Ilahi
Sebab bumi ini bukan semata milik mereka yang berkuasa,
melainkan titipan Yang Maha Kuasa,
diturunkan dengan amanah
agar kita menjaga bukan merusak.
Biarlah angin di Morowali menjadi saksi:
bahwa kejujuran lebih kokoh dari baja,
bahwa keberanian lebih panas dari tungku nikel.
Dan saat kelak kita kembali pulang
menghadap Pemilik Segala Kuasa,
kita berharap dapat berkata:
“Kami menjaga tanah yang Kau titipkan.
Kami tegakkan kebenaran meski sunyi.
Kami pilih cahaya-Mu
di atas segala bayang kekayaan yang menipu.”
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment